Rokok dan Perangkap Kemiskinan

February 25th, 2009 by budidab

tulisan sy ini dimuat di Investor Daily. semoga bermanfaat

http://www.investorindonesia.com/index.php?option=com_content&task=view&id=71472

Rokok dan Perangkap Kemiskinan

Tulisan pada harian Investor Daily (19/2) tentang “Rakyat Miskin Menyubsidi Industri Rokok” patut mendapat apresiasi. Merokok pada rakyat miskin membawa dampak yang luar biasa dahsyat. Kecanduan rokok terbukti makin menenggelamkan keluarga miskin ke dalam perangkap lingkaran kemiskinan.

Indonesia menduduki peringkat ketiga jumlah perokok terbesar di dunia. Fakta mengejutkan ditemukan pada penelitian terhadap 175 ribu keluarga miskin kota di Indonesia yang dilakukan Helen Keller. Penelitian Helen menemukan, belanja untuk rokok merupakan proporsi pengeluaran terbesar dibandingkan pengeluaran lain dalam rumah tangga.

Pada keluarga miskin tersebut, lebih dari seperlima pendapatan dikeluarkan untuk rokok, bahkan melampaui belanja makanan pokok (beras). Temuan pada kaum miskin kota ini, jauh lebih memprihatinkan dari data nasional.

Sementara itu, data agregat nasional (Susenas, 2005) menjukkan fakta yang tak kalah memprihatinkan. Persentase belanja rokok dalam keluarga termiskin melampaui keluarga terkaya. Berdasarkan data ini, belanja bulanan rokok keluarga termiskin setara pengeluaran 8 kali lipat biaya pendidikan dan 6 kali untuk biaya kesehatan. Dibandingkan pengeluaran makanan bergizi, jumlah itu juga setara dengan 15 kali daging, serta 5 kali bagi telur dan susu.

Akibat belanja rokok, keperluan lain terabaikan. Pendidikan rendah dan gizi buruk adalah akibat langsung dari kebiasaan menyedot asap beracun tersebut. Balita adalah salah satu korban rentan pada keluarga miskin perokok. Mengingat mayoritas perokok berasal dari keluarga miskin, maka gizi buruk balita secara massif jelas mengancam terjadinya kehilangan generasi (lost generation).

Laporan Bank Dunia akhir 2007 tentang perkembangan Indonesia mencapai Tujuan Pembangunan Milenium (MDGs) menyebutkan, gizi buruk adalah nokta buruk yang mencederai pencapaian tujuan lain. Belanja rokok pada keluarga miskin, jelas berkontribusi besar dengan “prestasi” ini.

Beban Kesehatan

Merokok, pertama-tama terbukti sangat merusak kesehatan. Dalam sebatang rokok terdapat sekitar 4.000 zat kimia beracun. Zat kimia tersebut antara lain nikotin, karbon monoksida, sianida dan formalin. Penyakit yang berkaitan dengan rokok di antaranya kanker, stroke dan saluran nafas. Stroke kini menjadi penyebab kematian terbesar di Indonesia.

Rokok bukan hanya membahayakan si perokok saja, melainkan orang lain di sekitarnya (perokok pasif). Parahnya lagi, delapan dari sepuluh perokok (84%) melakukan aktivitas merokok di dalam rumah ketika sedang berada bersama anggota keluarga. Istri dan anak-anak dari kepala keluarga yang merokok jelas menjadi kelompok rentan.

Aktivitas merokok di rumah, diindikasikan kuat terjadi pada keluarga miskin. Ini terkait dengan kondisi tingkat pendidikan dan kesadaran kesehatan yang rendah. Kerentanan terhadap penyakit pada keluarga miskin perokok menyebabkan pembebanan kesehatan yang semestinya tidak perlu. Ongkos kesehatan tersebut makin membebani keluarga miskin yang pendapatannya sangat terbatas.

Secara agregat, wabah rokok yang makin merajalela akan memunculkan ledakan biaya kesehatan yang jumlahnya jauh lebih besar dari pendapatan cukai rokok. Menurut Kosen, pada tahun 2001 diperkirakan biaya akibat kematian dini, sakit dan kecacatan akibat konsumsi rokok jumlahnya Rp 127 triliun atau lebih dari 7 kali cukai rokok.

Biaya kesakitan terutama pada rakyat miskin ujung-ujungnya juga akan menjadi beban negara melalui Asuransi Kesehatan untuk Rakyat Miskin (Askeskin), yang pada akhirnya ditanggung pula oleh pajak rakyat, baik perokok maupun bukan perokok.

Sikap Pemerintah

Terhadap situasi yang memprihatinkan ini, pemerintah tampaknya tak peduli. Dikoordinasi oleh Departemen Perindustrian dan gabungan industri rokok, pemerintah justru mendorong produksi rokok yang terus meningkat. Melalui peta jalan industri rokok, ditargetkan rokok diproduksi menjadi 260 miliar batang per tahun hingga tahun 2015. Ini berarti meningkat 40 miliar batang dibandingkan tahun 2005 yang berkisar 220 miliar batang.

Di sisi lain, harga rokok di Indonesia tergolong paling murah di Asia. Akibat murah dan gampang dijangkau, konsumsi rokok senantiasa meningkat. Ironisnya, pemerintah ingin mendapatkan pendapatan cukai yang tinggi melalui konsumsi rokok, tapi konsekuensi terhadap anak-anak dan rakyat miskin terbaikan. Susenas (2004) menunjukkan peningkatan perokok usia di bawah 10 tahun hampir 5 kali lipat selama 3 tahun.

Paradigma pemerintah Indonesia memang sangat berkebalikan dengan paradigma global. Dengan tujuan melindungi generasi muda, rakyat miskin, dan meningkatkan pendapatan negara, pemerintah seharusnya mengenakan tinggi cukai sehingga rokok menjadi mahal. Ini adalah win-win solution. Di samping penerimaan negara meningkat, harga yang tinggi menjadikan rokok kurang terjangkau pada kelompok rentan, yaitu keluarga miskin dan anak-anak.

Kebijakan soal rokok memang tidak berada di ruang kosong. Pengusaha rokok termasuk kategori pengusaha paling kaya di Indonesia. Seperti biasa, kekuatan kapital cenderung mempunyai kemampuan membengkokkan suatu kebijakan pemerintah meski hal itu bisa merugikan kepentingan umum dan negara pada jangka menengah serta panjang.***

Perjalanan Waktu

July 25th, 2008 by budidab

apakah ada yg berubah dalam diriku? pasti iya & ada yg tidak. soal arah yg ingin dicapai ataupun keinginan yg pengen diraih, rasanya tidak terlalu. bahkan mungkin semakin konkret. sesuatu yg ingin aku wujudkan dlm kurun waktu tertentu. kini, aku menuju ke arah sana. aku optimis, aku bisa mencapai itu. tanggung jawab sebagai seorang suami, ataupun tanggung jawab sosial.

mungkin warna-warni perjalanan yg kini semakin majemuk, ini yg pasti membuat horison berpikirku menjadi lebih luas. ini yg mungkin berubah. kita harus selalu belajar. kita harus selalu terbuka pada berbagai pandangan baru. menjadi semakin kaya terhadap berbagai macam perspektif. perubahan dalam hal ini pasti terjadi.

yg mesti digarisbawahi & tak boleh dilupakan, kita mesti membangun kompetensi. dimensi horisontal & vertikal mesti dijalankan. terlalu berat pada horisontal membuat kita tidak mengerti apa yg terjadi sebenarnya, karena yg kita mengerti terlalu sumir. terlalu vertikal membuat kita menjadi picik & tak tau apa yg terjadi sebenarnya, karena kita hanya memakai kacamata kuda. keseimbangan horisontal & vertikal akan membuat kearifan sekaligus peran pemecah persoalan (problem solver).

kedua dimensi itu kini sedang aku racik utk menjadi jati diriku. sesuatu yg membuat aku nyaman. sesuatu yg juga layak & berharga untuk diperjuangkan. sekaligus aktualisasi untuk menjadi diri sendiri, bahkan tanpa harus menggantungkan nasib pada orang lain. soal butuh keberanian & perjuangan, itu pasti. "brave the new world !!!!!!"

puisi ini, kini terasa nyaring dihatiku & begitu kumaknai:

…….."Kami mau :
Jantung hidup,
Darah merah,
Dendang lantang
Pukulan nadi
Yang menderas napas,
Kian deras, hingga balapan
Dengan tanggapan
Otak dan hati,
Otak dan hati sendiri.

Kami benci keindahan kuda pingitan
Yang licin bulunya dan putih,
Hidup dari persediaan.

Kami ingin :
Kuda liar ditengah padang,
Yang deras melepas mau hatinya,
Biar tertarung, biar patah, biar mati,
Berani menjuang nasib,
Merebut kemujuran
Dalam sanggup bangkit kembali,
Dengan tenaga sendiri,
Untuk turun – naik gunung … berlari,
Masuk keluar lembah … berdiri,
Mendesak ke cakrawala
Dengan kemauan yang mendidih,
Haus baru, lapar baru
Bebas memilih hidup dan mati,
Mana suka : Jiwa pelopor"……

semoga jalan yang aku tempuh benar2 diberkati oleh Tuhan. semua yg aku miliki adalah dari kemurahan-Nya. tidak boleh ada kesombongan, kita tidak mempunyai hak sama sekali untuk sombong. pemberian itu mesti disikapi dengan tanggung jawab. pemberian yg lebih, harus disikapi dengan tanggungjawab yg lebih pula. semoga aku akan lebih bertanggungjawab.

on the right track?

June 16th, 2008 by budidab

kehidupan di tanah air tampaknya makin sulit. pengemis &
pemulung, tampaknya makin banyak. keluhan sopir taksi, desah kegelisahan sopir
bajaj terasa benar seperti getaran bajaj-nya. jalan becek, berlubang, lalu
lintas semrawut. hati menjadi cepat panas, ledakan kemarahan dgn cacian adalah
hal yg lumrah dijumpai.

kadang2 ada perasaan tak berdaya melihat situasi sekarang. ada kebuntuan.
tetapi, seperti biasanya rakyat kecil akan menemukan jalannya sendiri. namun,
apakah jalan itu kemudian begitu ekstrem melalui kematian? seperti ibu
mengandung yg meninggal di makasar, atau penyapu jalanan di bogor yg juga mati kelaparan. seharusnya
memang tdk seperti itu.

gelisah, itu pasti.  aku membayangkan, kapan negeri kita ini bisa
mendapatkan tingkat kesejahteraan seperti negara2 maju di eropa. seperti yg aku
jumpai, mereka mempunyai kualitas hidup yg tinggi.

dulu aku bermimpi bisa melakukan sesuatu yg besar sesudah pulang, jauh2 dari belajar.
asketisme intelektual, aku sering menyebutnya begitu. namun, ternyata memang
tdk semudah yg dibayangkan. begitu pula, tanggung jawab pribadi mesti juga
diperhatikan disamping tanggung jawab sosial.

namun, rasanya aku masih mengarah kesana. mencoba memahami & berpraksis
pada dual track, ekonomi rakyat & ekonomi kapital. Pertentangan kelas mesti
dihindari. dua2nya mesti dikembangkan & saling mendukung. kini jalan kedua
yg coba diselami. keynes-pun seorang yg memahami keduanya aku rasa, sehingga
dia bisa membangkitkan ekonomi Eropa yg begitu terpuruk.

Keputusan

March 5th, 2008 by budidab

beberapa hari lalu, aku ngeliat seorang anak kecil berjalan
sendiri. mungkin umurnya baru 6 atau 7 tahun. sbenarnya, tidak ada hal yg
istimewa. hanya saja dia membawa karung besar. benar, anak kecil itu seorang
pemulung. dia berjalan menyusuri tepi jalan. sendiri……

ah, betapa terkadang hidup ini keras sekali. aku acap kali merasa tidak
berdaya. apa yg bisa kita lakukan? mungkin tidak banyak yg bisa dilakukan. tapi
mungkin harus dilakukan.

beberapa waktu ini, aku memutuskan sesuatu yg mungkin tdk pernah dibayangkan
sahabat & teman2 dekatku. yah, keputusan memang harus diambil. aku berharap
bisa melakukan sesuatu yg mungkin lebih besar nantinya, semoga lebih nyata…
mungkin…ya, mungkin… tak ada yg tau apa yg terjadi ke depan….. sesuatu
memang harus dikerjakan dengan sungguh2, meski kita tak tahu apa yg akan terjadi
ke depan….. harapan memang mesti didekap erat2..:)

Kemiskinan yg menampar kita

January 13th, 2008 by budidab

Hari ini aku kerja naik KRL. Turun Stasiun Gondangdia karena keretanya tdk berhenti di Cikini, balik lagi ke Cikini dari Gondangdia setelah menunggu cukup lama.  Aku pengen tancep gas kerja, makanya mikir2 perlu makan dulu isi "bensin". Ada somay yg cukup dikenal di Stasiun Cikini. Ah, makan somay ah pikirku….

Somay campur langsung masuk dan mengganjal perut. Tiba2, sesuatu yg menyesakkan dada terlihat di depan mata. Seorang perempuan muda berbaju kumal tiba2 datang makan sisa2 somay yg berada di meja sebelahku. Lalu, cepat2 ia menyeruput teh botol yang juga tersisa. Tak sampai hati aku melihatnya.

Sembari berjalan ke tempat kerja, pemandangan mengenaskan itu terus membayangiku..:(

Ah, kemiskinan selalu saja menampar dimana-mana. Kemiskinan ini bukanlah sekedar di atas kertas. Ia secara telanjang menampar kita, bukan hanya di lampu merah, pinggir jalan ataupun pinggiran kali. Ia juga bercokol di sekitar kita, menjadi tetangga di lingkungan kita. Mungkin kita yg tidak tahu saja. Agaknya, kita semua harus bekerja lebih keras untuk menghadapi persoalan ini dengan cara kita masing2. Memajukan martabat kemanusiaan manusia agar lebih layak dalam kehidupan…

Sanjak Liar

August 13th, 2007 by budidab

puisi ini sangat menginspirasi, sy baca di pengantar bukunya Pram (Mereka Yang Dilumpuhkan, 1951) yg ditulis Taslim Ali. sy rasa puisi ini mungkin lebih tepat dikasihkan pada buku Pram yg lain, yaitu Sang Pemula, 1985. anyway, thanks utk seorang sahabat yg menulis puisi ini kembali…:)


Sanjak liar


Kami telah mual
Bau bangkai kata – kata,
Memoles bingkai – bingkai tua
Dari cermin omong kosong.

Kami mau :
Jantung hidup,
Darah merah,
Dendang lantang
Pukulan nadi
Yang menderas napas,
Kian deras, hingga balapan
Dengan tanggapan
Otak dan hati,
Otak dan hati sendiri.

Kami benci keindahan kuda pingitan
Yang licin bulunya dan putih,
Hidup dari persediaan.

Kami ingin :
Kuda liar ditengah padang,
Yang deras melepas mau hatinya,
Biar tertarung, biar patah, biar mati,
Berani menjuang nasib,
Merebut kemujuran
Dalam sanggup bangkit kembali,
Dengan tenaga sendiri,
Untuk turun – naik gunung … berlari,
Masuk keluar lembah … berdiri,
Mendesak ke cakrawala
Dengan kemauan yang mendidih,
Haus baru, lapar baru
Bebas memilih hidup dan mati,
Mana suka : Jiwa pelopor

Merebut ”Golden Age” 2020

February 28th, 2007 by budidab

tulisan saya ini, baik bagi yg pesimis maupun optimis tentang masa depan Indonesia. semoga ini makin menambah harapan…:)

http://www.sinarharapan.co.id/berita/0702/27/opi01.html

Merebut ”Golden Age” 2020

Indonesia berpotensi menjadi negara terkuat ke-5 atau ke-6 pada tahun 2020 di dunia, hal ini diprediksikan oleh Dinas Intelijen AS (NIC). Perhitungan itu didasarkan besaran kekuatan ekonomi yang dihitung berdasar Produk Domestik Bruto (PDB). Diperkirakan dengan pertumbuhan ekonomi 6-7 persen per tahun, besaran PDB Indonesia akan melampui negara-negara di Eropa.

Sayidiman Suryohadiprojo (Sinar Harapan, 3 Januari) mengkritik hal itu dengan mengemukakan dominannya produksi pihak asing di Indonesia. Ini dilihat dari selisih Produk Domestik Bruto (PDB) terhadap Produk Nasional Bruto (PNB) begitu besar, mencapai lebih dari Rp 85 triliun pada tahun 2005. Melihat tren yang terjadi, bila dominasi pihak asing begitu besar, Sayidiman menyebut hal itu tak berbeda dengan penjajahan Belanda dulu. Prediksi NIC itu sebenarnya tentang Indonesia yang berada dalam neo-kolonialisme, katanya.

Dominannya asing dalam perekonomian suatu bangsa sering menjadi kontroversi. Peristiwa Malari 1974 juga dipicu ketidakpuasan akibat begitu dominannya modal asing dari Jepang dalam perekonomian Indonesia, di samping dimanfaatkan elite politik yang bertikai. Modal asing tak selamanya menguntungkan. Data neraca pembayaran bisa menunjukkan bahwa nilai kumulatif arus masuk investasi asing telah diiringi dengan nilai kumulatif keuntungan investasi asing yang direpatriasi ke luar negeri (Sritua Arief, 1993). Dari studi kasus Indonesia juga menunjukkan transfer teknologi hasilnya tidak terlalu menggembirakan. (Chia, 2006).

Kegelisahan Sayidiman tentang dominasi asing yang terlalu besar memang patut dipahami. Tentu saja hal ini tidak perlu dibaca sebagai anti terhadap investasi asing. Ungkapan tersebut menyiratkan kegelisahan, bagaimana agar bangsa kita sendiri mampu mengelola sumber daya yang ada sehingga bermanfaat dan berdampak ganda (multiplier effect) pada masyarakat luas. Artinya, keuntungan dari nilai tambah tetap berputar di ekonomi domestik dan tidak ditransfer ke luar negeri.

Pemerintah Membiarkan Hambatan Terjadi

Sayangnya diskusi tentang investasi hampir selalu diartikan dengan investasi asing. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pun berkunjung ke berbagai negara bertujuan untuk menarik investasi asing, bahkan berjanji menyediakan “karpet merah”. Pertanyaannya, lalu bagaimana dengan investasi lokal (domestik) sendiri? Jangan lupa, investor lokal inilah yang telah menghidupi masyarakat banyak. Memang nilainya tidak sangat besar, namun jumlahnya sangat banyak.

Dari hasil Survei Ekonomi tahun 2006 BPS yang diumumkan bulan ini, selama 10 tahun terakhir jumlah perusahaan/usaha telah meningkat 38,6 persen. Total jumlah usaha adalah 22,73 juta (non pertanian). Lalu, ditinjau dari skala usaha, maka 99,3 persen berupa usaha mikro dan kecil. Artinya, jumlah usaha menengah dan besar tidak mencapai satu persen. Tentunya, usaha mikro dan kecil bukanlah berasal dari investasi asing. Sebagian dari usaha menengah dan besar juga bukan berasal dari investasi asing. Namun, mereka menghidupi hampir seluruh rakyat Indonesia.
Lalu, perlakuan apa yang diberikan oleh pemerintah terhadap mereka? Dari Government Assessment Survey 2006 yang dilakukan Universitas Gadjah Mada menunjukkan, pemerintah tidak cukup mendukung bahkan cenderung menghambat. Ketidakpastian hukum atas tanah, birokrasi, korupsi dan rendahnya kepastian regulasi justru telah mengakibatkan kegagalan usaha.

Sementara itu, sektor perbankan sebagai lembaga intermediasi begitu seret menyalurkan kredit. Perbankan lebih suka menyimpan dana masyarakat ke SBI, tanpa resiko dan kerja keras sudah mendapat keuntungan. Pemerintah mengacuhkan hambatan ekonomi yang terus terjadi dan hanya berandai-andai investasi asing akan datang. Ibarat ingin menangkap balam di angkasa, punai di tangan dilepaskan, akhirnya justru tidak dapat dua-duanya. Justru mendorong perkembangan sektor-sektor ekonomi yang ada, itulah esensi dari pembangunan.

Korea Selatan pada awal pembangunannya sangat mengandalkan kekuatan dari dalam negeri. Bila ekonomi domestik berkembang maka investor asing akan datang dengan sendirinya, tanpa perlu diundang dan “karpet merah”. Jumlah penduduk terbesar ke-4 di dunia dengan kemampuan daya beli penduduk yang tinggi, pasti sangat menggiurkan.

Manfaatkan “Golden Age” Indonesia

Kembali bila melihat proyeksi dunia tahun 2020, kita akan menjumpai negara-negara maju di Eropa mengalami aging population (proporsi penduduk usia tua yang besar). Dan menurut Biro Statistik Amerika, itu juga akan pada Jepang, Rusia, Amerika Utara, Australia, Selandia Baru, Singapura, Hongkong, Taiwán, Korea dan Cina. Karakteristik aging population Cina agak unik, disamping grafik penduduknya akan naik melengkung akibat kebijakan satu keluarga satu anak, ia juga disertai ketidakseimbangan gender (akibat mayoritas lebih memilih anak laki-laki).

Sebaliknya, Indonesia justru akan mengalami golden age (masa emas), sebab komposisi penduduk dengan usia produktif akan paling tinggi. Hasil proyeksi menunjukkan bahwa sampai 20 tahun ke depan penduduk usia produktif (15-64 tahun) meningkat signifikan. Sebaliknya penduduk usia muda (0-14 tahun), khususnya anak balita (0-4 tahun), akan mengalami penurunan secara berarti. Golden age akan dialami Indonesia kembali mungkin ratusan tahun kembali, maka ini perlu dimanfaatkan sebesar-besarnya.

Proporsi tertinggi penduduk pada kelompok usia produktif merupakan peluang emas bagi Indonesia untuk memacu produktivitas dan daya saing. Apalagi, pada saat itu negara-negara (maju) justru mengalami aging population yang berarti penduduk usia produktif justru sedikit. Inilah peluang dan kesempatan emas bagi Indonesia untuk tampil di dunia, menjadi negara yang maju dan bermartabat.

Kuncinya kini, bagaimana mempersiapkan diri agar penduduk usia produktif yang akan berkiprah 15 sampai 20 tahun ke depan. Agar mereka memiliki pendidikan dan keahlian yang memadai, sehat dan sigap beradaptasi menghadapi gelombang perubahan yang kian cepat dengan kemampuan teknologi. Tentunya, sektor pendidikan dan kesehatan perlu menjadi prioritas untuk menghasilkan manusia-manusia Indonesia yang unggul.
Tak perlu silau dengan apa yang belum kita miliki. Kita mesti bangga dan menghargai diri kita sendiri. Dari apa yang kita miliki, itulah yang seharusnya kita kembangkan. Baik itu sektor ekonomi kita sendiri, maupun berbagai sumber daya yang ada pada kita. Dan tentunya, masa depan haruslah direbut dengan melipatgandakan kerja keras kita. Ia mesti diayun dalam kebersamaan dengan menyelesaikan persoalan masa kini dan diarahkan untuk merebut peluang dan harapan masa depan.

Penulis adalah direktur Centre for Humanity and Civilization Studies (CHOICES) dan aktif di Bina Swadaya.

Questioning free trade & liberalization

January 30th, 2007 by budidab

My writing in Jakarta Post, the struggle is never end…

http://www.thejakartapost.com/yesterdaydetail.asp?fileid=20070129.F04

Questioning free trade & liberalization

Nowadays, pressure is mounting for developing
countries to adopt "good policies" to foster their
economic development. These policies include the
liberalization of trade, finance, and investment.
These ideas are imposed on developing countries by the
developed nations using strong and external bilateral
and multilateral pressure. The argument is that these
policies are good for developing countries because
they are how developed nations became rich.

The nature of economic liberalization has been
facilitated by the Structural Adjustment Programs
(SAPs) where the International Monetary Fund (IMF) and
World Bank play an important role. The World Trade
Organization (WTO), a development of the General
Agreement on Tariffs and Trade, was set up in order to
reduce tariffs in international trade and to eliminate
all other measures that prevent free trade.

Contrary to conventional wisdom, history shows that
rich countries did not develop on the basis of the
policies that they now recommend to, and often force
upon, the developing world. According to Ha-Joon
Chang, an historian and economist from Cambridge
University, almost all of today’s rich countries used
tariff protections and subsidies to develop their
industries.

Interestingly, Britain and the U.S., the countries at
the forefront of promoting free trade were formally
the two most aggressively protected and subsidized
nations. Britain had used aggression and in certain
areas was a pioneer of activist policies intended to
promote its industries during the 14th and 15
centuries and from the 18th century onwards.
Furthermore, between the American Civil War and World
War 2, the U.S. was one of the most heavily protected
economies in the world.

Britain and the U.S. may be the most dramatic
examples, but almost all of the rest of the developed
world today uses tariffs, subsidies and other means to
develop their industries in the early stages.
Countries like Germany, Japan, Korea and even Sweden,
which later came to represent the "small open economy"
to many economists, have strategically used tariffs,
subsidies, cartels, and state support for research and
development to develop key industries, especially
textiles, steel, and engineering. Lately, developed
countries have become interested in free trade but
only among themselves.

The history of GATT/WTO shows that this institution is
skewed to fulfill the needs of developed countries.
Economist C. Fred Bergsten in a 1998 study shows that
the initial creation of the European Common Market in
the late 1950s was one of the motivations for the
American initiative to launch the Kennedy Round. At
that time, the U.S. wanted to reduce the newly created
discrimination against American exports. Similarly,
the expansion of the European Community to include the
United Kingdom and other nations was an important
reason for America to insist on the Tokyo Round in the
1970s.

Protection was progressively reduced on exports from
developed countries, but remained on goods exported
intensively by developing countries. It is no surprise
that GATT came to cover trade over all goods except
agriculture and textiles. These two goods are most
often produced by developing countries.

Textiles were covered by the Multifiber Arrangement
(MFA), through which developing countries bargained
bilaterally to establish quotas on the quantities of
exports that they could export to developed countries.
However, developed countries did not impose any
restrictions on textile imports from other developed
countries. Correspondingly, agricultural trade was
excluded from the GATT and developed countries still
continue to pursue protectionist policies and
subsidies.

Writing about developed countries preaching free trade
to less-advanced nations, Friedrich List compared it
to a person trying to "kick away the ladder" that they
had used to climb to the top. Economist Dr. Ha-Joon
Chang then argues it is no coincidence that economic
development has become more difficult during the last
two decades when developed countries started putting
pressure on developing countries to adopt these
so-called "global standard" policies and institutions.

Mainstream economists will likely argue that China and
India, the two rising giants, have benefited from
trade liberalization or free trade. However, one
should consider this statement carefully. To be sure
China is advantaged by trade liberalization, but trade
liberalization certainly did not cause China’s growth.

China began to grow rapidly in the late 1970s, but
trade liberalization did not begin until the late
1980s, and only took off in the 1990s after economic
growth had increased markedly. The Indian story is
similar. Growth there increased in the early 1980s
while tariffs were actually going up in some areas and
did not begin to come down significantly until the
major reforms of 1991-1993.

Reflecting on these facts, the conditions attached to
bilateral and multilateral financial assistance to
developing countries should be radically changed. It
should be accepted that the orthodox recipe is not
(always) working. There are no "best practice"
policies or a panacea that everyone should use. By
being allowed to adopt policies and institutions that
are more suitable to local conditions, developing
countries will change faster. This will also benefit
developed countries in the long run, as it will
increase their trade and investment opportunities.

The writer is director of the Centre for Humanity and
Civilization Studies (CHOICES) and is actively
involved in Bina Swadaya Foundation.

Anggota DPR jalan2 ke Eropa

November 9th, 2006 by budidab

Anggota DPR jalan2 lagi ke Eropa, sesuatu hal yg patut disesalkan. Jalan2 yg berbungkus studi banding ini tentunya dibiayai negara alias dari uang rakyat. Patut ditelusuri, berapa biaya yg dikeluarkan utk "pelesiran" itu lalu dituntut akuntabilitasnya. Di saat Indonesia masih dirundung banyak persoalan…. ah, sungguh luar biasa kelakuan para anggota DPR kita yg terhormat itu.

Ah, Rombongan DPR Pelesiran Kok
http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2006/bulan/11/tgl/09/time/030955/idnews/705718/idkanal/10

Mereka Bahayakan Demokrasi Kita
http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2006/bulan/11/tgl/09/time/032758/idnews/705721/idkanal/10

Sepi

November 3rd, 2006 by budidab

Rasa kesepian tiba2 menelusup. Ah beratnya, desisku lirih. Aku merasa seperti dihadapkan pada hamparan gurun pasir. Kering kerontang. Dunia terasa gersang, tdk ada variasi.  Tidak ada pilihan, jalani saja. Ah, haruskah aku menyerah? Terbayang tantangan di depan yg membentang bak cakrawala. Duh beratnya, keluhku pelan sembari menggigil.

Perasaan ini aku rasakan pula usai membaca posmodernisme, tapi rasanya ini lebih berat. Menyimak paper2 & jurnal tentang liberalisasi perdagangan Indonesia yg hampir semuanya satu warna & tdk kritikal membuat aku merasa risau. Ah, arus pemikiran mainstream yg sifatnya kemudian lebih tehnikalitis memang luar biasa. Tentu aku bukan menolak begitu saja liberalisasi, tp terlalu mudahnya menerima arus pemikiran ini memang  benar2 menggelisahkan. Jelas2 negara2 maju yg berkotbah tentang liberalisasi saja masih melakukan proteksi yg kuat terhadap produk2 mereka, kenapa kita begitu  antusias tanpa reserve berusaha mendorong itu lebih cepat. Apa kita hanya mau menjadi kuli, pekerja & pasar konsumerisme saja?

Kemarau gagasan & kemacetan angan-angan ini memang berat. Kalaupun ada suara lain, tampaknya lebih sifatnya normatif tanpa argumentasi yg kuat, sekedar kemarahan. Semua orang memang bisa marah & marah memang mudah, namun sayang itu tdk cukup & tdk menyelesaikan persoalan. Ah beratnya, bisikku makin lirih. Dlm suasana kebekuan imajinasi ini, tiba2 aku merasa begitu sendiri & kesepian..:-(