Archive for December, 2005

Mengenang Munir : Untuk Kak Suciwati 1

Saturday, December 17th, 2005

di antara kapas-kapas awan engkau merenda airmata, menatap perginya pasangan jiwamu menuju istana Cinta
danau-danau senja penuhi kelopak matamu, luluhkan sayap jiwamu yang tengah membawamu mengarungi samudera
derai sunyi di sudut hatimu menggetarkan sungai-sungai doa, hingga genangi pipi buah hati tercinta yang menatapmu tanpa daya

sementara aku di sini hanya mampu menatapmu kelu, terpaku hingga hari berganti bulan dan bulan pun hanyut dalam kisaran waktu

dan kini, di detik yang tak lagi mampu tuk kuhitung pasti, hanya kata-kata sepi ini yang mampu kuucap untukmu, kak Suciwati

: ” janganlah menangis lagi, janganlah ada airmata lagi,
yakinkan sang buah hati untuk tetap tegar dalam merenda hari-hari
meski pahit seakan tanpa ujung, tanpa akhir, tanpa henti ”

: ” janganlah menangis lagi, janganlah ada airmata lagi,
karena sungai-sungai doa hantarkan sang sayap jiwa merajut senyumnya di istana Cinta
meja keadilan kan segera menjelma di lautan nirwana, dan rekatkan keping-keping airmatamu di setiap lembah duka. ”

N. Kirana
bdg, 12 agustus 2005

SAJAK SEBOTOL BIR 


Sunday, December 11th, 2005

Menenggak bir sebotol, menatap dunia,
dan melihat orang-orang kelaparan.
Membakar dupa, mencium bumi,
dan mendengar derap huru-hara.
Hiburan kota besar dalam semalam, 
sama dengan biaya pembangunan sepuluh desa ! 


Peradaban apakah yang kita pertahankan ?
Mengapa kita membangun kota metropolitan ? 
dan alpa terhadap peradaban di desa ? 
Kenapa pembangunan menjurus kepada penumpukan, 
dan tidak kepada pengedaran ?

Kota metropolitan di sini tidak tumbuh dari industri, 
Tapi tumbuh dari kebutuhan negara industri asing 
 akan pasaran dan sumber pengadaan bahan alam 
Kota metropolitan di sini, 
adalah sarana penumpukan bagi Eropa, Jepang, Cina, Amerika, 
 Australia, dan negara industri lainnya.

Dimanakah jalan lalu lintas yang dulu ? 
Yang neghubungkan desa-desa dengan desa-desa ? 
Kini telah terlantarkan. 
Menjadi selokan atau kubangan. 
Jalanlalu lintas masa kini, 
mewarisi pola rencana penjajah tempo dulu, 
adalah alat penyaluran barang-barang asing dari 
 pelabuhan ke kabupaten-kabupaten dan 
 bahan alam dari kabupaten-kabupaten ke pelabuhan.

Jalan lalu lintas yang diciptakan khusus, 
tidak untuk petani, 
tetapi untuk pedagang perantara dan cukong-cukong.

Kini hanyut di dalam arus peradaban yang tidak kita kuasai. 
Di mana kita hanya mampu berak dan makan, 
tanpa ada daya untuk menciptakan. 
Apakah kita akan berhenti sampai di sini ?

Apakah semua negara yang ingin maju harus menjadi negara industri ? 
Apakah kita bermimpi untuk punya pabrik-pabrik 
yang tidak berhenti-hentinya menghasilkan…….. 
harus senantiasa menghasilkan…. 
Dan akhirnya memaksa negara lain 
untuk menjadi pasaran barang-barang kita ?…………………………….

Apakah pilihan lain dari industri hanya pariwisata ? 
Apakah pemikiran ekonomi kita 
hanya menetek pada komunisme dan kapitalisme ? 
Kenapa lingkungan kita sendiri tidak dikira ? 
Apakah kita akan hanyut saja 
di dalam kekuatan penumpukan 
yang menyebarkan pencemaran dan penggerogosan 
terhadap alam di luar dan alam di dalam diri manusia ?……………………………….

Kita telah dikuasai satu mimpi 
untuk menjadi orang lain. 
Kita telah menjadi asing 
di tanah leluhur sendiri. 
Orang-orang desa blingsatan, mengejar mimpi, 
dan menghamba ke Jakarta. 
Orang-orang Jakarta blingsatan, mengejar mimpi 
dan menghamba kepada Jepang, 
Eropa, atau Amerika. 
 


Pejambon, 23 Juni 1977

W.S. Rendra, Potret Pembangunan dalam Puisi

SAJAK ANAK MUDA

Sunday, December 4th, 2005

Kita adalah angkatan gagap yang diperanakkan oleh angkatan takabur.
Kita kurang pendidikan resmi di dalam hal keadilan,
karena tidak diajarkan berpolitik,
dan tidak diajar dasar ilmu hukum

Kita melihat kabur pribadi orang,
karena tidak diajarkan kebatinan atau ilmu jiwa.
Kita tidak mengerti uraian pikiran lurus,
karena tidak diajar filsafat atau logika.

Apakah kita tidak dimaksud untuk mengerti itu semua ? 
Apakah kita hanya dipersiapkan untuk menjadi alat saja ?

inilah gambaran rata-rata pemuda tamatan SLA, pemuda menjelang dewasa.
Dasar pendidikan kita adalah kepatuhan. Bukan pertukaran pikiran.

Ilmu sekolah adalah ilmu hafalan, dan bukan ilmu latihan menguraikan.

Dasar keadilan di dalam pergaulan, serta pengetahuan akan kelakuan manusia, sebagai kelompok atau sebagai pribadi, tidak dianggap sebagai ilmu yang perlu dikaji dan diuji.

Kenyataan di dunia menjadi remang-remang. 
Gejala-gejala yang muncul lalu lalang, tidak bisa kita hubung-hubungkan. 
Kita marah pada diri sendiri 
Kita sebal terhadap masa depan. 
Lalu akhirnya, menikmati masa bodoh dan santai.

Di dalam kegagapan, kita hanya bisa membeli dan memakai tanpa bisa mencipta. 
Kita tidak bisa memimpin, tetapi hanya bisa berkuasa, persis seperti bapak-bapak kita.

Pendidikan negeri ini berkiblat ke Barat.
Di sana anak-anak memang disiapkan
Untuk menjadi alat dari industri. 
Dan industri mereka berjalan tanpa berhenti. 


Tetapi kita dipersiapkan menjadi alat apa ?
Kita hanya menjadi alat birokrasi ! 
Dan birokrasi menjadi berlebihan tanpa kegunaan, menjadi benalu di dahan.

Gelap. Pandanganku gelap. 
Pendidikan tidak memberi pencerahan. 
Latihan-latihan tidak memberi pekerjaan 

Gelap. Keluh kesahku gelap. 
Orang yang hidup di dalam pengangguran.

Apakah yang terjadi di sekitarku ini ? 
Karena tidak bisa kita tafsirkan, 
lebih enak kita lari ke dalam puisi ganja.

Apakah artinya tanda-tanda yang rumit ini ? 
Apakah ini ? Apakah ini ? 
Ah, di dalam kemabukan, wajah berdarah akan terlihat sebagai bulan.

Mengapa harus kita terima hidup begini ? 
Seseorang berhak diberi ijazah dokter, dianggap sebagai orang terpelajar,
tanpa diuji pengetahuannya akan keadilan. 
Dan bila ada ada tirani merajalela, ia diam tidak bicara, kerjanya cuma menyuntik saja.

Bagaimana ? Apakah kita akan terus diam saja. 
Mahasiswa-mahasiswa ilmu hukum dianggap sebagi bendera-bendera upacara, 
sementara hukum dikhianati berulang kali.

Mahasiswa-mahasiswa ilmu ekonomi dianggap bunga plastik, 
sementara ada kebangkrutan dan banyak korupsi.

Kita berada di dalam pusaran tatawarna yang ajaib dan tidak terbaca. 
Kita berada di dalam penjara kabut yang memabukkan. 
Tangan kita menggapai untuk mencari pegangan. 
Dan bila luput, kita memukul dan mencakar ke arah udara

Kita adalah angkatan gagap. 
Yang diperanakan oleh angkatan kurangajar. 
Daya hidup telah diganti oleh nafsu. 
Pencerahan telah diganti oleh pembatasan. 
Kita adalah angkatan yang berbahaya.

Pejambon, Jakarta, 23 Juni 1977
Rendra, Potret Pembangunan dalam Puisi