Mengenang Munir : Untuk Kak Suciwati 1

di antara kapas-kapas awan engkau merenda airmata, menatap perginya pasangan jiwamu menuju istana Cinta
danau-danau senja penuhi kelopak matamu, luluhkan sayap jiwamu yang tengah membawamu mengarungi samudera
derai sunyi di sudut hatimu menggetarkan sungai-sungai doa, hingga genangi pipi buah hati tercinta yang menatapmu tanpa daya

sementara aku di sini hanya mampu menatapmu kelu, terpaku hingga hari berganti bulan dan bulan pun hanyut dalam kisaran waktu

dan kini, di detik yang tak lagi mampu tuk kuhitung pasti, hanya kata-kata sepi ini yang mampu kuucap untukmu, kak Suciwati

: ” janganlah menangis lagi, janganlah ada airmata lagi,
yakinkan sang buah hati untuk tetap tegar dalam merenda hari-hari
meski pahit seakan tanpa ujung, tanpa akhir, tanpa henti ”

: ” janganlah menangis lagi, janganlah ada airmata lagi,
karena sungai-sungai doa hantarkan sang sayap jiwa merajut senyumnya di istana Cinta
meja keadilan kan segera menjelma di lautan nirwana, dan rekatkan keping-keping airmatamu di setiap lembah duka. ”

N. Kirana
bdg, 12 agustus 2005

Leave a Reply