Usai pulang dari vietnam, kakakku menulis email panjang lebar ngebales emailku tentang hal2 & rencana yg aku buat. Aku suka emailnya, terkesan tenang & dewasa. Ada sebuah sentilan halus yg membuatku sejenak merenung. “ati ati jangan kebanyakan baca ini itu dan lupa fokus - jadi generalis tanggung nantinya! he he he”
Memang ini bukan yg pertama aku dengar dari dia. Soal generalis & spesialis ini, dulu aku juga sering ngobrol sama bosku. Sebuah dilema. Generalist : learning less & less about more & more, knowing everything about nothing. Specialist : learning more & more about less & less, knowing nothing about everything. Memang lumayan dilematis….:(
Tiba2 aku ingat satu tulisan Daoed Joesoef yg aku baca agak lama, udah agak lupa tapi kira2 bunyinya yg menginspirasiku “the specialization construction of a whole”. Kira2 yg ingin dikatakan, mempunyai spesialisasi tapi juga mempunyai pemahaman terhadap bangunan keseluruhan.
Ada bahaya memang kalo sekedar menjadi spesialis. Kalo ini dari si Maslow, dia bilang “To the man who only has a hammer in the toolkit, every problem looks like a nail”. Orang yg hanya punya palu, akan selalu menyelesaikan segala persoalan dengan palu…hehehe
Menurutku, Daoed Joesoef memang benar. Dengan kemampuan melihat gambar besar dari persoalan atau mampu melihat persoalan dari berbagai sisi lain, disini sebenarnya letak dari munculnya kearifan. Bukan kefanatikan yg sempit, setiap persoalan bisanya hanya “dipalu” karena selalu dilihat sebagai “paku”.
Memang lebih mudah melihat persoalan hanya dari satu sisi saja. Lebih nyaman pula membangun comfort zone (”daerah keamanan”) dengan bergaul dengan itu2 saja (bisa kelompok, suku, agama, ras, teman sepemikiran, dll) & menutup diri, atau dengan lingkungan yg kita nyaman & biasa. Hal2 baru akan terasa “mengancam”, makanya lebih aman melakukan sesuatu secara rutin. Kalau perlu, seperti burung unta yg bila merasa terancam menyembunyikan kepala di sayapnya (yg sebenarnya tdk menyelesaikan persoalan)…
Tapi, bukankah bila hidup ingin bermakna & berkembang harus berani menghadapi tantangan2 & sesuatu yg baru. “Unless you try to do something beyond what you have already mastered, you will never grow”, kata Emerson. “Brave a new world!!!!!” teriak si Huxley. Bukankah hidup harus bertanggungjawab, mengembangkan talenta (potensi) yg Tuhan anugerahkan pada kita agar kontribusi kita lebih besar? Sungguh sayang bila ini kita sia2kan, rasanya kok kurang bertanggungjawab gitu pada yang di atas..hehehe (sok religius..hehehehe)
Memang sih harga yg harus dibayar utk berkembang agak “mahal”, yaitu kerja keras, ketakutan, rasa gentar, rasa ketidaknyamanan, dll. Terutama di masa awal2. Tentu saja, sebagai manusia biasa kita semua pasti akan mengalaminya…:) Tapi memang ada beberapa hal kunci kalo ingin melihat semua itu sebagai pembelajaran, yaitu keterbukaan (mau melihat dari sisi yg berbeda), berpikir positif, kerendahan hati, kemauan terus mencoba, dll. Itu kira2 yg membuat kita tidak patah di tengah jalan..:)
Eh, kok jadi ngelantur kemana2..hehehe Kalo gejolak jiwa sedang menggelora, emang susah dikekang…hehehe soalnya, sampe lebih dr jam 4 pagi gelisah gak bisa tidur nich..hiks..hiks makanya ini nglepasin energi…:) trus, maunya setelah ini terkapar di tempat tidur..hehehe
Kembali ke ikhwal awal. Memang ada rasa kurang “sreg” ketika aku kuliah ekonomi di pasca UI dulu. Rasa2nya kok jadi sangat teknis, tiba2 udah terjebak ke detail…:( Aku ngerasa ingin ngeliat sesuatu dgn dimensi yg lebih luas. Makanya, ketika aku kuliah di ISS ini rasanya “in the right choice” (mungkin juga ini krn karakterku). Rasanya, aku bisa belajar banyak hal…:)
Tapi, tentu saja aku tidak akan melupakan fokusku. Aku memang ingin menjadi ekonom profesional, ini yg sedang aku tekuni sepenuh hatiku (”kubuang waktuku” di negeri orang utk konsentrasi). Tapi, aku juga ingin melihat persoalan2 dalam dimensi yg lebih luas (ruang & waktu) & dengan hati serta keberpihakan pada yg lemah-terpinggirkan. dan memang, ini harus dibayar lebih mahal….:)