Archive for January, 2006

Only Time

Wednesday, January 25th, 2006

Who can say
Where the road goes
Where the day flows
Only time

And who can say
If your love grows
As your heart chose
Only time

Who can say
Why your heart sighs
As your love flies
Only time

And who can say
Why your heart cries
When your love lies
Only time

Who can say
When the roads meet
That love might be
In your heart

And who can say
When the day sleeps
If the night keeps
All your heart

Night keeps all your heart

Who can say
If your love grows
As your heart chose
Only time

And who can say
Where the road goes
Where the day flows
Only time

Who knows
Only time
Who knows
Only time

By : Enya

Footprints

Monday, January 23rd, 2006

One night a man had a dream. He dreamed he was walking along the beach with the Lord. Across the sky flashed scenes from his life. For each scene, he noticed two sets of footprints in the sand; one belonging to him, and the other to the Lord.

When the last scene of his life flashed before him he looked back at the footprints in the sand. He noticed that many times along the path of his life there was only one set of footprints. He also noticed that it happened at the very lowest and saddest times in his life.

This really bothered him and he questioned the Lord about it. “Lord, you said that once I decided to follow you, you’d walk with me all the way. But I have noticed that during the most troublesome times in my life, there is only one set of footprints. I don’t understand why when I needed you most you would leave me.”

The Lord replied, “My precious, precious child, I love you and I would never leave you. During your times of trial and suffering, when you see only one set of footprints, it was then that I carried you.”

Author : unknown

Spesialis atau Generalis?

Saturday, January 21st, 2006

Usai pulang dari vietnam, kakakku menulis email panjang lebar ngebales emailku tentang hal2 & rencana yg aku buat. Aku suka emailnya, terkesan tenang & dewasa. Ada sebuah sentilan halus yg membuatku sejenak merenung. “ati ati jangan kebanyakan baca ini itu dan lupa fokus - jadi generalis tanggung nantinya! he he he”

Memang ini bukan yg pertama aku dengar dari dia. Soal generalis & spesialis ini, dulu aku juga sering ngobrol sama bosku. Sebuah dilema. Generalist : learning less & less about more & more, knowing everything about nothing. Specialist : learning more & more about less & less, knowing nothing about everything. Memang lumayan dilematis….:(

Tiba2 aku ingat satu tulisan Daoed Joesoef yg aku baca agak lama, udah agak lupa tapi kira2 bunyinya yg menginspirasiku “the specialization construction of a whole”. Kira2 yg ingin dikatakan, mempunyai spesialisasi tapi juga mempunyai pemahaman terhadap bangunan keseluruhan.

Ada bahaya memang kalo sekedar menjadi spesialis. Kalo ini dari si Maslow, dia bilang “To the man who only has a hammer in the toolkit, every problem looks like a nail”. Orang yg hanya punya palu, akan selalu menyelesaikan segala persoalan dengan palu…hehehe

Menurutku, Daoed Joesoef memang benar. Dengan kemampuan melihat gambar besar dari persoalan atau mampu melihat persoalan dari berbagai sisi lain, disini sebenarnya letak dari munculnya kearifan. Bukan kefanatikan yg sempit, setiap persoalan bisanya hanya “dipalu” karena selalu dilihat sebagai “paku”.

Memang lebih mudah melihat persoalan hanya dari satu sisi saja. Lebih nyaman pula membangun comfort zone (”daerah keamanan”) dengan bergaul dengan itu2 saja (bisa kelompok, suku, agama, ras, teman sepemikiran, dll) & menutup diri, atau dengan lingkungan yg kita nyaman & biasa. Hal2 baru akan terasa “mengancam”, makanya lebih aman melakukan sesuatu secara rutin. Kalau perlu, seperti burung unta yg bila merasa terancam menyembunyikan kepala di sayapnya (yg sebenarnya tdk menyelesaikan persoalan)…

Tapi, bukankah bila hidup ingin bermakna & berkembang harus berani menghadapi tantangan2 & sesuatu yg baru. “Unless you try to do something beyond what you have already mastered, you will never grow”, kata Emerson. “Brave a new world!!!!!” teriak si Huxley. Bukankah hidup harus bertanggungjawab, mengembangkan talenta (potensi) yg Tuhan anugerahkan pada kita agar kontribusi kita lebih besar? Sungguh sayang bila ini kita sia2kan, rasanya kok kurang bertanggungjawab gitu pada yang di atas..hehehe (sok religius..hehehehe)

Memang sih harga yg harus dibayar utk berkembang agak “mahal”, yaitu kerja keras, ketakutan, rasa gentar, rasa ketidaknyamanan, dll. Terutama di masa awal2. Tentu saja, sebagai manusia biasa kita semua pasti akan mengalaminya…:) Tapi memang ada beberapa hal kunci kalo ingin melihat semua itu sebagai pembelajaran, yaitu keterbukaan (mau melihat dari sisi yg berbeda), berpikir positif, kerendahan hati, kemauan terus mencoba, dll. Itu kira2 yg membuat kita tidak patah di tengah jalan..:)

Eh, kok jadi ngelantur kemana2..hehehe Kalo gejolak jiwa sedang menggelora, emang susah dikekang…hehehe soalnya, sampe lebih dr jam 4 pagi gelisah gak bisa tidur nich..hiks..hiks makanya ini nglepasin energi…:) trus, maunya setelah ini terkapar di tempat tidur..hehehe

Kembali ke ikhwal awal. Memang ada rasa kurang “sreg” ketika aku kuliah ekonomi di pasca UI dulu. Rasa2nya kok jadi sangat teknis, tiba2 udah terjebak ke detail…:( Aku ngerasa ingin ngeliat sesuatu dgn dimensi yg lebih luas. Makanya, ketika aku kuliah di ISS ini rasanya “in the right choice” (mungkin juga ini krn karakterku). Rasanya, aku bisa belajar banyak hal…:)

Tapi, tentu saja aku tidak akan melupakan fokusku. Aku memang ingin menjadi ekonom profesional, ini yg sedang aku tekuni sepenuh hatiku (”kubuang waktuku” di negeri orang utk konsentrasi). Tapi, aku juga ingin melihat persoalan2 dalam dimensi yg lebih luas (ruang & waktu) & dengan hati serta keberpihakan pada yg lemah-terpinggirkan. dan memang, ini harus dibayar lebih mahal….:)

Balas Dendam!!!

Friday, January 20th, 2006

Ketemu Howard emang menyenangkan. Maunya sih mau ngambil bacaan ke tempatnya, tp ternyata bacaan bisa dibuka di internet kampus…:) akhirnya, aku ngasih cd film “The New Rulers of the World” saja. eh… dia bilang kalo udah lama nyari2 film itu, seneng banget dia tampaknya. ah, tampaknya aku ngasih pada orang yg tepat…:) film itu emang sangat kritis pada globalisasi ekonomi, kasusnya ngambil di indonesia lalu diperluas. filmnya emang bagus, cuma sayang beredar sangat terbatas..:(

sayang gak bisa ngobrol lama, gak enak soalnya dia persiapan utk ke Sri Langka 2 minggu. tampaknya, dia nyiapin materi tulisan. wah…. makanya, kuliah dia berturut2 tiap hari. gile bener, aku ngejar bacaan yg ia kasih sampe pake ronda segala..:) ternyata ini penyebabnya..hehehe meski terkadang agak kebangetan kritisnya sampe aku agak risih, tapi aku suka dengan independensi berpikirnya…:) gak banyak orang yg mampu menjaga independensi pemikiran. wah, sayang sementara ini gak bisa ngobrol sama dia nih..:(

tapi hari2 ini emang bener2 melelahkan bagiku..:) ikutan kuliah di beberapa courses yg secara formal gak aku ambil, ternyata menyerap energi yg banyak. satu hari bisa 3-4 kelas, gile bener kepala rasanya jadi penuh & berat. belum lagi tidurnya dikorting krn bacaan banyak..:(

rasanya, aku jadi linglung..hiks..hiks.. kepala penuh banget, kalo jalan kadang gak sempat perhatiin orang. ditegur naomi beberapa hari lalu pas jalan, aku kaget buuuanget. soalnya, kok tiba2 ternyata udah ada disampingku, siapa yg gak kaget….hehehe untung, aku gak jantungan…:)

ah, semoga aku gak nyinggung orang2 lain krn kecuekanku ini…hehehe kalo ada, yach sory aja prens…hehehe bukan maskud hatiku….:) yg jelas, aku mau “balas dendam” malam libur ini. tidur sepuas2nya bro…hehehe

Pasca Indonesia

Saturday, January 7th, 2006

hari ini aku ke delft, ketemu father pieter. sebenarnya udah mau ujian, tapi okelah paling cuma beberapa jam. malamnya aku bakal begadang.

jalan2 ngeliat Museum Nusantara, lalu macem2 tempat yg indah terutama karena bangunan serta water management yg apik. lalu ngeliat markas VOC dulu, ngeliat replika kapal VOC.

di museum hatiku tercekat, ngeliat berbagai peninggalan masa penjajahan ataupun berbagai benda dari nusantara. ngeliat berbagai patung & lukisan bali membuat aku tercenung. mendengar gamelan, kerinduan pada tanah air langsung merebak.

tiba2, pemikiran romo mangun melintas dlm benak. tampaknya aku makin memahami, apa yg dimaksud dengan manusia jawa, pasca jawa & pasca indonesia sekaligus. “pasca” disini berarti melampaui (beyond), seperti halnya istilah pasca sarjana.

tak bisa dipungkiri, aku lahir sebagai orang jawa. aku adalah orang jawa. lingkungan & kebudayaan yg paling aku pahami adalah jawa. tapi disamping orang jawa, aku sekaligus juga seorang pasca jawa. aku adalah orang indonesia. identitas keindonesiaanku tidak mencerabut kejawaanku. aku bangga menjadi orang jawa, aku juga bangga sbg orang indonesia.

disamping pasca jawa, aku juga pasca indonesia. aku adalah warga dunia. interaksi dengan temen2 baik tua muda dari berbagai macam belahan dunia, makin membuat aku sadar dengan ini. renungan beberapa waktu lagi di danau yg begitu indah di jenewa yg dikelilingi bangunan2 tua yg apik serta pegunungan yg diselimuti salju, aku makin memahami apa arti kemajuan peradaban.

tapi, apakah kebangsaan atau nasionalisme adalah penaklukan terhadap kebangsaan lain? apakah kejayaan sebuah bangsa adalah kekalahan bagi bangsa lain? apakah percaturan politik bangsa2 adalah soal kalah menang (win-lose game)?

dengan menggeledek nietzche berteriak lantang, sejarah umat manusia adalah will to power, the struggle to power (aku makin memahami ungkapan ini stelah kuliah di ISS). sartre juga meneriakkan dengan nyaring, orang lain adalah neraka bagi diri kita.

tapi, apakah demikian? dalam perjalanan hidupku yg masih seumur jagung ini, orang lain adalah guru bagiku. Tuhan tdk memberiku kesempatan utk berbuat semua kesalahan, sehingga aku bisa belajar dari kesalahan itu. aku bisa belajar dari kesalahan orang lain. Tuhan juga memberiku kemewahan bertemu orang2 yg patut diteladani, utk dijadikan contoh. aku merasa makin menjadi manusia, makin merasa penuh, akibat belajar dari orang lain. artinya, ini bukan persoalan win-lose. semuanya bisa menang kok, justru butuh kerendahatian utk terus belajar dr siapapun & kemauan berbagi. entah dalam konteks antar manusia atau antar bangsa.

kembali dalam renungan singkat ini, aku makin menyadari apa arti menjadi jawa, pasca jawa & pasca indonesia sekaligus. bincang2ku dengan BC, seorang sahabat yg mendedikasikan hidupnya utk persoalan2 kemanusiaan internasional di jenewa, makin menguatkan keyakinanku.

ah, mungkin terlalu panjang tulisan ini. yg jelas semboyan “my nationalism is humanity” yang sering dikutip Soekarno dari Gandhi, terasa menghentak di dada. Aku adalah seorang nasionalis dan kebangsaanku adalah kemanusiaan!!!

Anakmu bukan milikmu

Thursday, January 5th, 2006

Mereka putra-putri Sang Hidup yang rindu pada diri sendiri.

Lewat engkau mereka lahir, tapi tidak dari engkau,

Mereka ada padamu, tapi bukan hakmu.

Berikan mereka kasih sayangmu,

Tapi, jangan sodorkan bentuk pikiranmu,

Sebab pada mereka ada alam pikiran tersendiri.

Patut kauberikan rumah untuk raganya,

Tapi, tidak untuk jiwanya,

Sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan,

Yang tiada dapat kaukunjungi, sekalipun dalam mimpi.

Kau boleh berusaha menyerupai mereka,

Namun, jangan membuat mereka menyerupaimu.

Sebab kehidupan tidak pernah berjalan mundur,

Pun tidak tenggelam di masa lampau.

Kaulah busur dan anak-anakmulah anak panah yang meluncur.

Sang Pemanah mahatahu sasaran bidikan keabadian,

Dia merentangmu dengan kekuasaan-Nya,

Hingga anak panah itu melesat, jauh serta cepat.

Meliuklah dengan sukacita dalam rentangan tangan Sang Pemanah,

Sebab Dia mengasihi anak panah yang melesat laksana kilat,

Sebagaimana pula dikasihi-Nya busur yang mantap.

*Kahlil Gibran*