Pasca Indonesia
hari ini aku ke delft, ketemu father pieter. sebenarnya udah mau ujian, tapi okelah paling cuma beberapa jam. malamnya aku bakal begadang.
jalan2 ngeliat Museum Nusantara, lalu macem2 tempat yg indah terutama karena bangunan serta water management yg apik. lalu ngeliat markas VOC dulu, ngeliat replika kapal VOC.
di museum hatiku tercekat, ngeliat berbagai peninggalan masa penjajahan ataupun berbagai benda dari nusantara. ngeliat berbagai patung & lukisan bali membuat aku tercenung. mendengar gamelan, kerinduan pada tanah air langsung merebak.
tiba2, pemikiran romo mangun melintas dlm benak. tampaknya aku makin memahami, apa yg dimaksud dengan manusia jawa, pasca jawa & pasca indonesia sekaligus. “pasca” disini berarti melampaui (beyond), seperti halnya istilah pasca sarjana.
tak bisa dipungkiri, aku lahir sebagai orang jawa. aku adalah orang jawa. lingkungan & kebudayaan yg paling aku pahami adalah jawa. tapi disamping orang jawa, aku sekaligus juga seorang pasca jawa. aku adalah orang indonesia. identitas keindonesiaanku tidak mencerabut kejawaanku. aku bangga menjadi orang jawa, aku juga bangga sbg orang indonesia.
disamping pasca jawa, aku juga pasca indonesia. aku adalah warga dunia. interaksi dengan temen2 baik tua muda dari berbagai macam belahan dunia, makin membuat aku sadar dengan ini. renungan beberapa waktu lagi di danau yg begitu indah di jenewa yg dikelilingi bangunan2 tua yg apik serta pegunungan yg diselimuti salju, aku makin memahami apa arti kemajuan peradaban.
tapi, apakah kebangsaan atau nasionalisme adalah penaklukan terhadap kebangsaan lain? apakah kejayaan sebuah bangsa adalah kekalahan bagi bangsa lain? apakah percaturan politik bangsa2 adalah soal kalah menang (win-lose game)?
dengan menggeledek nietzche berteriak lantang, sejarah umat manusia adalah will to power, the struggle to power (aku makin memahami ungkapan ini stelah kuliah di ISS). sartre juga meneriakkan dengan nyaring, orang lain adalah neraka bagi diri kita.
tapi, apakah demikian? dalam perjalanan hidupku yg masih seumur jagung ini, orang lain adalah guru bagiku. Tuhan tdk memberiku kesempatan utk berbuat semua kesalahan, sehingga aku bisa belajar dari kesalahan itu. aku bisa belajar dari kesalahan orang lain. Tuhan juga memberiku kemewahan bertemu orang2 yg patut diteladani, utk dijadikan contoh. aku merasa makin menjadi manusia, makin merasa penuh, akibat belajar dari orang lain. artinya, ini bukan persoalan win-lose. semuanya bisa menang kok, justru butuh kerendahatian utk terus belajar dr siapapun & kemauan berbagi. entah dalam konteks antar manusia atau antar bangsa.
kembali dalam renungan singkat ini, aku makin menyadari apa arti menjadi jawa, pasca jawa & pasca indonesia sekaligus. bincang2ku dengan BC, seorang sahabat yg mendedikasikan hidupnya utk persoalan2 kemanusiaan internasional di jenewa, makin menguatkan keyakinanku.
ah, mungkin terlalu panjang tulisan ini. yg jelas semboyan “my nationalism is humanity” yang sering dikutip Soekarno dari Gandhi, terasa menghentak di dada. Aku adalah seorang nasionalis dan kebangsaanku adalah kemanusiaan!!!