Menjadi Manusia & Misteri Kehidupan
Sunday, February 26th, 2006jumat malam aku ngeliat Manufacturing Consent-nya Chomsky (katanya, the most important public intellectual in the world), film yg bagus banget. isinya memang agak sophisticated, namun diurai sehingga mudah dicerna. ada satu ungkapan yg secara sederhana menyentuh bagiku, “menjadi seorang manusia”. ya…. “menjadi manusia” (to be a human).
apa yg dicari ketika kita, katakanlah, memperjuangkan sesuatu yg kita anggap berharga yaitu kebenaran, kebaikan, keadilan, dll. ada satu pertanyaan yg sering mengguncang hatiku ketika dilanda kegamangan, “untuk apa?”. toh tdk ada kepentingan pribadi yg secara langsung didapat, jadi “untuk apa semua ini?”. pertanyaan ini terinspirasi dr refleksi jalan salib dlm madah bakti.
dlm tradisi katolik, ada sebuah litani/prosesi utk menghayati sengsara Kristus menuju penyaliban yg dinamakan “jalan salib”. ilustrasi film yg bagus menggambarkan proses ini adalah “The Passion of The Christ”. film ini mengguncangkan hati karena kekejaman & deraan diperlihatkan secara telanjang, proses sengsara Kristus yg begitu hebat. sebuah pengorbanan yg sangat besar, seorang yg mengorbankan nyawa utk sahabat2nya.
salah satu inti dr refleksi jalan salib adalah pengorbanan. tapi, betapa menyakitkan ketika kita ditanyai “untuk apa?” dg semua pengorbanan itu. “untuk apa semua ini?”. rasanya sulit sekali menjawab ini, tentu aku tak berani membandingkan dg apa yg dilakukan Kristus.
tp rasa2nya, setelah mencermati chomsky, makin jelas pertanyaan itu bisa dijawab. “untuk menjadi manusia”, mungkin ini jawaban yg tepat. ya, “menjadi manusia”. seorang manusia yg tdk mau menumpulkan & mengkhianati hati nuraninya. sebenarnya, “seorang manusia biasa”. tidak kurang & tidak lebih.
hanya saja, ketika ia berada di lingkungan manusia2 yg telah “menumpulkan hati nuraninya”, maka ia menjadi “luar biasa”. dg demikian gandhi, munir, martin luther king, romo mangun, pramudya ananta toer, dll adalah “manusia biasa”. tdk ada yg luar biasa dr mereka. hanya saja, lingkungan mereka yg “luar biasa”.
btw, sabtu aku ketemuan dg temen dr brasil. aku ngajak ngobrol dg dia krn aku melihat pandangan2 dia yg mengesankan, lalu aku ingin membicarakan tentang proyeksi lembaga think tank intelijen amerika yg memproyeksikan brasil & indonesia akan menjadi kelompok kedua negara terbesar di dunia pd tahun 2020. pandangan2 sahabat ini memang jernih & tajam. ia melihat dr sisi lain yg agak mengejutkan bagiku.
ternyata ia pernah terlibat dlm world citizen assembly. wuah, padahal dulu aku menulis artikel tentang apa yg dihasilkan dr pertemuan itu di kompas. tentang tanggung jawab manusia dlm jagat global. sayang aku tdk ikut secara langsung pertemuan itu. stelah aku tau tentang hal ini, udah deh semuanya langsung menjadi makin cair krn visinya ternyata tak jauh berbeda. pembicaraan tentang arah komunitas yg kita buat makin terasa gamblang & optimis..:)
perjumpaan yg tdk terduga ini memang sebuah misteri. kadang2 kita tak sadar dg itu. tentang ini aku banyak belajar dr celestine prophecy-nya redfield. buku new age itu membuatku menyadari kembali tentang eksistensi Tuhan. tahun 98-an aku benar2 diguncang oleh pemikiran nietzche, marx, sartre dan (terutama materialisme historis) feuerbach. berbagai suasana waktu itu memang mendukung. melawan soeharto & mengikuti pemikiran mengembara yg membutuhkan alternatif yg “keras”. keluar dr ortodoksi pemikiran yg telah dicemari dg ketakutan & ketertaklukan.
dr celestine prophecy aku menyadari, tdk semua hal bisa dirasionalitaskan. rasa keindahan misalnya memandang merekahnya mentari, rasanya sulit dirasio. peristiwa yg tak terduga, ketemu dg orang2 yg kita temui jg sulit dirasio. apakah itu kebetulan, atau ada sesuatu yg dibalik itu? jatuhnya soeharto juga merupakan hal yg tak terduga oleh siapapun sebelumnya.
lalu, apakah kita perlu jerih utk melangkah ke depan? mungkin rasa takut boleh ada krn kita manusia, tp tetap saja kita harus melangkah ke depan. selalu ada hal2 yg akan membantu kita, meski kita saat ini tdk tahu. harapan adalah hal yg paling radikal yg dimiliki oleh orang beriman. seperti secara sederhana diungkapkan oleh de mello, “semua akan menjadi baik….semua akan menjadi baik….segala sesuatunya akan menjadi baik”