The Impossible Dream

Kemarin begitu melelahkan. Kefrustasian tak bisa dielakkan. Buntu menatap ke depan. Kemarahan membara. Ah, kalo begini jadi ingat Eep, “Kemarahan adalah tanda ketidakberdayaan”. Ah, tampaknya dia benar. Aku merasa tak berdaya….

Mengikuti kelas economics of globalization kemarin, kesimpulanku benar. Kita terjebak pada “international division of labor”. Brengsek!!! Aku merasa terowongan yg dilalui terasa makin gelap, terasa tanpa ujung. Setitik cahaya, tak nampak di depan. Brengsek!!! Brengsek!!! Brengsek!!!

Tampaknya hari ini tampaknya agak lain, samar2 ada cahaya di depan. Semoga itu benar. Ah, tiba2 jadi ingat sajak yg aku “obrak-abrik” dari JJ Kusni utk pak Mubyarto dulu (almarhum), seorang sahabat dalam spirit & pemikiran.

luka dan kehilangan
yang siapapun dari kita
kenal perihnya
dengan lengan baju kita usap
meneruskan perjalanan

luka dan kehilangan itu pun tertanda di seluruh tubuh
yang mencoba tak menyerah
cinta adalah pilihan
dan pilihan itu kata yang menterjemahkan mimpi
boleh jadi besok atau lusa kita tersungkur dilanda waktu

kukira siapapun tahu
malam ada ujungnya
sungai ada muaranya
di detik penghabisan kita tetap memacu
mengerahkan tenaga penghabisan

ah, aku ingat lagi lirik lagu “The Impossible Dream” yg dibuat Joe Darion dari blognya Baby (thanks ya Beb, btw aku juga punya yg nyanyiin Frank Sinatra sama Elvis Presley..hehehe kalo lo mau, ntar gw kirim)

To dream the impossible dream
To fight the unbeatable foe
To bear with unbearable sorrow
To run where the brave dare not go

To right the unrightable wrong
To love pure and chaste from afar
To try when your arms are too weary
To reach the unreachable star

This is my quest
To follow that star
No matter how hopeless
No matter how far

To fight for the right
Without question or pause
To be willing to march into Hell
For a heavenly cause

And I know if I’ll only be true
To this glorious quest
That my heart will lie peaceful and calm
When I’m laid to my rest

And the world will be better for this
That one man, scorned and covered with scars
Still strove with his last ounce of courage
To reach the unreachable star

“Perjuangan terhadap perubahan merupakan upaya membentur-benturkan diri pada zaman, kekalahan atau derita dalam harapan merupakan harga yang harus dibayarkan” kata2 ini aku pake, ketika meresensi buku tentang awal2 sejarah pergerakan nasional di Kompas beberapa tahun lalu. Kata2 itu selalu mengingatkanku dg novel2nya Pram, terutama tetraloginya yg dahsyat benar. Ah, aku suka sekali menghayatinya sampe sekarang.

Kalo dalam situasi kaya gini, aku selalu ingat petikan Kitab Suci yg paling aku favorit. Kebetulan dibacakan juga waktu Natal tahun lalu dan membuat hatiku begitu bergetar. “The light shines in the darkness and the darkness has NOT overcome it”.

Leave a Reply