Air Mata Darah
Monday, June 26th, 2006IZIKANLAH kami, rakyat miskin, untuk memeras air mata darah. Itulah
satu-satunya air mata yang kami punyai, tinggal. Tidak. Tidak. Kami
rakyat miskin tidak menangis lagi. Kami hanya meminta izin untuk tetap
sengsara disebabkan oleh ketidakbecusan kami dalam berburu nafkah.
Jangan cambuk lagi kami dengan cambuk kasih sayang. Cambuk kami dengan
penderitaan sepuluh tahun lagi, dua puluh tahun lagi, lima puluh tahun
lagi, supaya kami, rakyat miskin, terus belajar bagaimana bertahan di
segala cuaca.
Ketika menyadari bahwa setiap hari kami sangat kesukaran dalam mengatur uang
belanja kami yang cupet, kami sadar, semakin
mempersulit kerja siapa pun yang mencoba menolong kami. Ya, kami menjadi beban.
Beban yang berat sekali bagi siapa saja yang memikul kami.
Bagaimana kemungkinannya jika kami mengajukan eutanasia saja. Sekitar
separo dari penduduk negeri ini, rakyat miskin, bisa dieliminasi supaya beban
yang menyebabkan semuanya menderita bisa berkurang dalam sekejap.
Tak ada gunanya memelihara rakyat miskin. Di samping sangat menghambat
modernisasi, rakyat miskin juga sangat boros dalam melahap kekayaan bangsa.
Kenaikan harga BBM memang fatal. Kami, rakyat miskin,
ditempeleng telak. Kami terkapar. Ada saja anak-anak kami yang mencoba
bunuh diri karena tak mampu membayar uang sekolah. Tak tanggung-tanggung, 27.000 murid
sekolah di Bogor terancam putus sekolah. Dewasa ini,
kami yang jumlahnya ribuan macet sekolahnya, lalu menggelandang mencari
pekerjaan apa saja.
Kami juga menjadi pemulung, pengemis, penjambret,
pencuri, perampok, pemerkosa, pembunuh, agen dari segala kerusuhan dan
huru-hara. Pernah dengar sopir taksi dibunuh dan duitnya dijarah? Itulah
kerja kami. Kami membunuh kami, karena hanya dengan jalan itu, baru
kami bisa hidup.
Mitsubishi hengkang dari kebun kita dan memilih
berinvestasi di Thailand, yang menyebabkan kami mampus. Berapa ribu
karyawan yang kena PHK? Tanpa dibunuh pun, kami sudah tewas. Nah, beban
dari yang berwajib berkurang dalam mengurus kami, setelah kami undur diri dari dunia ramai.
Alangkah mudahnya mengurangi derita, barangkali
sebentar lagi menyusul Honda, Hyundai, KIA, Toyota, Daihatsu, Suzuki, apa
susahnya. Perusahaan besar datang dan pergi sesuka hati, seperti datang
perginya awan yang membentang di langit yang dapat diharapkan menjadi hujan.
Kami, rakyat miskin, memang sering bikin ulah yang menyebabkan para
investor tidak tenang hidupnya. Dan, yang berwajib tidak memperbaiki
semuanya itu karena memang tidak mampu, rasa aman, rasa saling
menghargai, rasa tidak digerogoti, sudah sangat berat untuk
ditanggulangi. Memang menyelenggarakan konferensi,
kongres, muktamar, dan rapat-rapat jauh lebih memikat karena ringan,
namun duitnya banyak, daripada menjaga para investor itu dari segala
rongrongan.
Musim semi ekonomi Indonesia telah tiba, yang menikmati tentulah hanya
para petinggi dan elite politik. Tolong jangan ajak kami ke pesta, meski
terdengar kata-kata mutiara: Pesta yang buruk adalah pesta tanpa
mengajak kaum miskin, sebab itu cuma basa-basi yang
sudah disobek dari lembar buku-buku pelajaran bagi orang-orang yang
beriman. Orang-orang yang beriman sudah memiliki buku-buku baru yang lebih cocok.
Apa arti musim semi ekonomi bagi rakyat miskin?
Semuanya itu cuma pembicaraan yang tidak mampu kami pahami. Yang kami
butuhkan hanyalah yang serbakonkret. Jika kami sakit, beri kami obat;
jika lapar, kasih kami makanan; kalau sedih, hibur kami. Tapi, itu semua
sudah tamat. Yang kami perlukan cuma eutanasia. Nah, kerjakan sekarang,
mumpung penderitaan kami belum bertambah-tambah. Sekitar
seratus delapan puluh juta jiwa bakal lenyap sekelebatan. Itulah pengertian
yang benar yang selama ini kami yakini.
Kami tahu, beban berat tidak bisa dipikul terus-menerus tanpa dipunggah
dari pundak. Ayo, beristirahat. Kami berteduh di bawah pohon besar untuk
melepaskan peluh yang mengucur. Kami susun kembali
karung-karung besar beban yang menggunung di sisi kami lelap siang yang
panas itu. Kami bermimpi sejenak. Mimpi tentang anak-anak yang kami
lahirkan yang menempuh hidup di kemudian hari. Anak-anak yang cerdas
dan berbakti yang tetap saja digarong oleh masa depannya.
Andai kami bisa membentengi keturunan kami dari segala
kerusuhan dan saling menerkam lewat mimpi kami ini. Mimpi adalah
godaan yang kami bangun sendiri dengan perih. Waktu jaga sudah kembali,
atau kami terus bermimpi, dan tak kembali ke bumi. Alhamdulillah.
Hidup hanya sepenggal catatan yang kusam yang tidak dibaca lagi. Ke sana
segala kesedihan berlabuh sampai kapal rusak tak mampu melaut lagi. Air
mata dari segala air mata. Kami hanya rakyat miskin yang setiap saat
dilupakan. Yang boleh dianggap tak pernah ada. Robeklah catatan dan
kami lenyap.
Segala pasang surut APBN, harga minyak, dan para
investor tak juga tertarik untuk mengadu untung di sini karena bahaya
mengancam di setiap sudut kota, itu kesalahan kami, rakyat miskin, yang
tidak memahami seluk-beluk citra dari segala penampilan. Kami sudah
pasrah dengan segala tangan yang terikat ke belakang. Gusur kami
dari segala usir dan hardik. Penggal (!) dan kepala kami menggelinding.
Kami, rakyat miskin, tinggal punya air mata darah,
seperti yang sudah diumumkan oleh tsunami, Buyat, demam berdarah, flu
burung, polio, raskin, maupun tanah longsor, dan banjir. Semua
keterbukaan sudah tertutup bagi kami. Sampai di sini riwayat kami.
Jangan diperpanjang lagi cerita yang hanya meninabobokan. Kami letih.
Konyol kami tak mampu melepaskan beban sendiri tanpa
bantuan siapa pun. Segalanya pernah ditulis. Segalanya pernah dikenang.
Untung bagi kami yang kami hadapi hanyalah sisa-sisa kekuatan dari masa
lampau yang sungguh tak sakti yang mencoba memberi nyawa kami.
Yang papa, yang sengsara. Keadilan, kemakmuran, dan kebenaran, meski
bagaimanapun pernah kami cecap, sedikit. Selamat tinggal.***
* Danarto, budayawan