Archive for November, 2006

Anggota DPR jalan2 ke Eropa

Thursday, November 9th, 2006

Anggota DPR jalan2 lagi ke Eropa, sesuatu hal yg patut disesalkan. Jalan2 yg berbungkus studi banding ini tentunya dibiayai negara alias dari uang rakyat. Patut ditelusuri, berapa biaya yg dikeluarkan utk "pelesiran" itu lalu dituntut akuntabilitasnya. Di saat Indonesia masih dirundung banyak persoalan…. ah, sungguh luar biasa kelakuan para anggota DPR kita yg terhormat itu.

Ah, Rombongan DPR Pelesiran Kok
http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2006/bulan/11/tgl/09/time/030955/idnews/705718/idkanal/10

Mereka Bahayakan Demokrasi Kita
http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2006/bulan/11/tgl/09/time/032758/idnews/705721/idkanal/10

Sepi

Friday, November 3rd, 2006

Rasa kesepian tiba2 menelusup. Ah beratnya, desisku lirih. Aku merasa seperti dihadapkan pada hamparan gurun pasir. Kering kerontang. Dunia terasa gersang, tdk ada variasi.  Tidak ada pilihan, jalani saja. Ah, haruskah aku menyerah? Terbayang tantangan di depan yg membentang bak cakrawala. Duh beratnya, keluhku pelan sembari menggigil.

Perasaan ini aku rasakan pula usai membaca posmodernisme, tapi rasanya ini lebih berat. Menyimak paper2 & jurnal tentang liberalisasi perdagangan Indonesia yg hampir semuanya satu warna & tdk kritikal membuat aku merasa risau. Ah, arus pemikiran mainstream yg sifatnya kemudian lebih tehnikalitis memang luar biasa. Tentu aku bukan menolak begitu saja liberalisasi, tp terlalu mudahnya menerima arus pemikiran ini memang  benar2 menggelisahkan. Jelas2 negara2 maju yg berkotbah tentang liberalisasi saja masih melakukan proteksi yg kuat terhadap produk2 mereka, kenapa kita begitu  antusias tanpa reserve berusaha mendorong itu lebih cepat. Apa kita hanya mau menjadi kuli, pekerja & pasar konsumerisme saja?

Kemarau gagasan & kemacetan angan-angan ini memang berat. Kalaupun ada suara lain, tampaknya lebih sifatnya normatif tanpa argumentasi yg kuat, sekedar kemarahan. Semua orang memang bisa marah & marah memang mudah, namun sayang itu tdk cukup & tdk menyelesaikan persoalan. Ah beratnya, bisikku makin lirih. Dlm suasana kebekuan imajinasi ini, tiba2 aku merasa begitu sendiri & kesepian..:-(

Sajak Sebatang Lisong

Friday, November 3rd, 2006

menghisap sebatang lisong
melihat Indonesia Raya
mendengar 130 juta rakyat
dan di langit
dua tiga cukung mengangkang
berak di atas kepala mereka

matahari terbit
fajar tiba
dan aku melihat delapan juta kanak - kanak
tanpa pendidikan

aku bertanya
tetapi pertanyaan - pertanyaanku
membentur meja kekuasaan yang macet
dan papantulis - papantulis para pendidik
yang terlepas dari persoalan kehidupan

delapan juta kanak - kanak
menghadapi satu jalan panjang
tanpa pilihan
tanpa pepohonan
tanpa dangau persinggahan
tanpa ada bayangan ujungnya
……………………..

menghisap udara
yang disemprot deodorant
aku melihat sarjana - sarjana menganggur
berpeluh di jalan raya
aku melihat wanita bunting
antri uang pensiunan

dan di langit
para teknokrat berkata :

bahwa bangsa kita adalah malas
bahwa bangsa mesti dibangun
mesti di up-grade
disesuaikan dengan teknologi yang diimpor

gunung - gunung menjulang
langit pesta warna di dalam senjakala
dan aku melihat
protes - protes yang terpendam
terhimpit di bawah tilam

aku bertanya
tetapi pertanyaanku
membentur jidat penyair - penyair salon
yang bersajak tentang anggur dan rembulan
sementara ketidak adilan terjadi disampingnya
dan delapan juta kanak - kanak tanpa pendidikan
termangu - mangu di kaki dewi kesenian

bunga - bunga bangsa tahun depan
berkunang - kunang pandang matanya
di bawah iklan berlampu neon
berjuta - juta harapan ibu dan bapak
menjadi gemalau suara yang kacau
menjadi karang di bawah muka samodra
……………………………

kita mesti berhenti membeli rumus - rumus asing
diktat - diktat hanya boleh memberi metode
tetapi kita sendiri mesti merumuskan keadaan
kita mesti keluar ke jalan raya
keluar ke desa - desa
mencatat sendiri semua gejala
dan menghayati persoalan yang nyata

inilah sajakku
pamplet masa darurat
apakah artinya kesenian
bila terpisah dari derita lingkungan
apakah artinya berpikir
bila terpisah dari masalah kehidupan

RENDRA
( itb bandung - 19 agustus 1978 )

* ) Sajak ini dipersembahkan kepada para mahasiswa Institut
Teknologi Bandung dan dibacakan di dalam salah satu adegan film “Yang
Muda Yang Bercinta” yang disutradarai oleh Sumandjaya.