Sepi
Rasa kesepian tiba2 menelusup. Ah beratnya, desisku lirih. Aku merasa seperti dihadapkan pada hamparan gurun pasir. Kering kerontang. Dunia terasa gersang, tdk ada variasi. Tidak ada pilihan, jalani saja. Ah, haruskah aku menyerah? Terbayang tantangan di depan yg membentang bak cakrawala. Duh beratnya, keluhku pelan sembari menggigil.
Perasaan ini aku rasakan pula usai membaca posmodernisme, tapi rasanya ini lebih berat. Menyimak paper2 & jurnal tentang liberalisasi perdagangan Indonesia yg hampir semuanya satu warna & tdk kritikal membuat aku merasa risau. Ah, arus pemikiran mainstream yg sifatnya kemudian lebih tehnikalitis memang luar biasa. Tentu aku bukan menolak begitu saja liberalisasi, tp terlalu mudahnya menerima arus pemikiran ini memang benar2 menggelisahkan. Jelas2 negara2 maju yg berkotbah tentang liberalisasi saja masih melakukan proteksi yg kuat terhadap produk2 mereka, kenapa kita begitu antusias tanpa reserve berusaha mendorong itu lebih cepat. Apa kita hanya mau menjadi kuli, pekerja & pasar konsumerisme saja?
Kemarau gagasan & kemacetan angan-angan ini memang berat. Kalaupun ada suara lain, tampaknya lebih sifatnya normatif tanpa argumentasi yg kuat, sekedar kemarahan. Semua orang memang bisa marah & marah memang mudah, namun sayang itu tdk cukup & tdk menyelesaikan persoalan. Ah beratnya, bisikku makin lirih. Dlm suasana kebekuan imajinasi ini, tiba2 aku merasa begitu sendiri & kesepian..:-(