Sanjak Liar
puisi ini sangat menginspirasi, sy baca di pengantar bukunya Pram (Mereka Yang Dilumpuhkan, 1951) yg ditulis Taslim Ali. sy rasa puisi ini mungkin lebih tepat dikasihkan pada buku Pram yg lain, yaitu Sang Pemula, 1985. anyway, thanks utk seorang sahabat yg menulis puisi ini kembali…:)
Sanjak liar
Kami telah mual
Bau bangkai kata – kata,
Memoles bingkai – bingkai tua
Dari cermin omong kosong.
Kami mau :
Jantung hidup,
Darah merah,
Dendang lantang
Pukulan nadi
Yang menderas napas,
Kian deras, hingga balapan
Dengan tanggapan
Otak dan hati,
Otak dan hati sendiri.
Kami benci keindahan kuda pingitan
Yang licin bulunya dan putih,
Hidup dari persediaan.
Kami ingin :
Kuda liar ditengah padang,
Yang deras melepas mau hatinya,
Biar tertarung, biar patah, biar mati,
Berani menjuang nasib,
Merebut kemujuran
Dalam sanggup bangkit kembali,
Dengan tenaga sendiri,
Untuk turun – naik gunung … berlari,
Masuk keluar lembah … berdiri,
Mendesak ke cakrawala
Dengan kemauan yang mendidih,
Haus baru, lapar baru
Bebas memilih hidup dan mati,
Mana suka : Jiwa pelopor