Pa, Ma, aku tidak bisa memenuhi keinginan Papa dan Mama. Lebih baik aku mati atau bunuh diri.
Bayangkan seperti apa kagetnya orang tua, ketika anaknya yang masih berumur delapan tahun menulis surat berisikan pesan seperti di atas. Dan surat itu benar-benar diterima oleh orang tua Indra, bukan nama sebenarnya, seorang bocah kelas III SD di Surabaya.
Indra merupakan satu dari sekian banyak anak-anak sekarang (usia 6-12 tahun) yang memiliki kesibukan menyamai pengusaha kelas berat. Sejak masuk bangku SD, sang ayah telah menaruh harapan begitu tinggi, khususnya di bidang matematika.
Tidak cukup dengan full day school, sang ayah menjejali hari-hari Indra dengan tiga les tambahan. Ada les kumon, sempoa, juga menggambar.
Bangun pagi, pukul 06.00 Indra sudah berangkat ke sekolah. Tujuh jam di sekolah, setelah itu dilanjutkan dengan les dan les. Pulang ke rumah, waktunya habis untuk menyelesaikan pekerjaan rumah (PR). Buru-buru mau bermain, nonton televisi saja tidak sempat.
Belum lagi pressure yang berat yang dilakukan sang ayah. Tiap hari, sang ayah mendikte Indra supaya harus begini dan begitu. Selain itu, sang ayah kerap mengecek semua nilai matematikanya. Sang ayah memang punya harapan tinggi, dia ingin Indra kelak bisa menjadi insinyur seperti dirinya.
Ironisnya, bukan nilai baik dan prestasi yang didapat sang anak. Justru nilainya terus merosot. Bukannya membantu, sang ayah langsung memarahi Indra. Mendapat tekanan seperti itu, Indra putus asa. Dia memutuskan hendak bunuh diri, bahkan sudah meninggalkan sepucuk surat untuk kedua orang tuanya.
Untung, tindakan tersebut tidak sempat terjadi. Pembantu rumah tangga keluarga tersebut menemukan surat yang ditulis Indra, lantas segera memberikan kepada orang tuanya.
"Syukurlah, setelah kejadian itu, kedua orang tua Indra sadar dan mencari pertolongan dengan datang ke sini," kata dr Endang Warsiki Ghozali SpKJ, psikiater anak yang menangani Indra.
Ketika kali pertama konsultasi, sang ayah masih sempat bertanya mengapa Indra tak bisa berprestasi seperti anak lain. Endang hanya bisa geleng-geleng kepala. "Nampaknya, ayah Indra lupa bahwa tiap anak memiliki kemampuan dan bakat yang berbeda. Ini yang kerap kali tidak dipahami orang tua," tutur dr Endang.
Psikiater RSU dr Soetomo itu mengatakan, ayah Indra berharap sang anak terus punya nilai sempurna.
Padahal, setelah diamati, secara genetika Indra memiliki sifat sang ibu yang kemampuannya cenderung ke arah pelajaran sosial.
Fenomena depresi seperti yang dialami anak-anak seperti Indra ini belakangan terus meningkat. Menurut Prof Lestari Basoeki SpKJ, staf Ilmu Kedokteran Jiwa RSU dr Soetomo Surabaya, saat ini banyak sekali anak-anak yang direcoki orang tuanya untuk mengikuti sejumlah les yang sangat memberatkan. Padahal, itu tidak cocok dengan anak usia 6-12 tahun.
"Pada masa itu, anak-anak sangat ingin menghabiskan waktunya untuk bermain dengan teman sebaya," terang psikiater anak dan remaja RSU dr Soetomo tersebut.
Prof Lestari menjelaskan, tanda-tanda gangguan jiwa bisa dilihat dari kesehariannya. Pertama, ketika sang buah hati tiba-tiba menjadi pemurung, menarik diri dari pergaulan, tidak mau melakukan aktivitas rutinnya. Atau sebaliknya, si kecil menjadi agresif, sering teriak, menjadi rewel dan menjengkelkan, bahkan nakalnya kelewatan.
Bila gejala-gejala tersebut didapati, bisa jadi si kecil hanya mengalami stres.
Tapi, bisa juga dia menjadi depresi berat atau psikosomatik.
"Orang tua harus mengenali sejak dini apakah anaknya tertekan atau tidak dengan semua aktivitas yang mereka jalani," tutur Prof Lestari. Sebab, sedikit saja orang tua "kelewatan" mengenali gejala psikis tersebut, anak bisa depresi.
Prof Lestari mengakui, bukan hanya kesibukan yang bisa membuat anak menjadi depresi. "Banyak hal lain. Hanya saja, belakangan ini memang menyeruak kasus depresi anak karena aktivitas mereka yang terlampau padat," tegasnya.
Yang lebih mengkhawatirkan, tidak banyak orang tua sadar anaknya bermasalah. Atau, pihak orang tua malu membawa anak mereka ke psikolog atau psikiater. Padahal, bila stres atau depresi itu dibiarkan, nantinya bisa mempengaruhi proses tumbuh kembang anak.
Manifestasinya ada dua. Pertama, si anak bisa berkembang menjadi pribadi yang tertutup, sulit bersosialisasi atau tidak cakap berkomunikasi. "Kalau begini, percuma memiliki anak pandai bila tidak mampu berinteraksi," ujar Prof Lestari.
Kedua, si anak bisa tumbuh menjadi pribadi yang agresif dan nakal. "Sikapnya itu sebagai konsekuensi dari rasa stres atau depresi yang dia alami," tutur alumnus FK Unair tersebut.
Yang membahayakan, saat dewasa bila tertimpa masalah yang berat, si anak menjadi rapuh. "Jangan heran bila menemukan anak kesayangan Anda menderita skizofrenia pada usia muda. Bisa jadi itu akibat perasaan yang tertahan sejak dia kecil. Perasaan yang terepresi itu akan mengakibatkan depresi, yang bisa berujung pada skizofrenia bila tidak mendapat penanganan segera," jelasnya.
Bagaimana caranya supaya ini tidak terjadi? Menurut dr Endang, ada hal penting yang harus disadari orang tua, bahwa setiap anak memiliki "keunikan" masing-masing. "Dengan begitu, mereka bisa tahu, anaknya cocok ikut les apa ya?" ujarnya. "Dengan begitu, orang tua pun memiliki target realistis. Ingat, anak itu titipan, bukan untuk memenuhi ambisi orang tua," tegasnya. (titik andriyani)
http://www.jawapos.co.id/index.php?act=detail_c&id=246995