Sajak Sebatang Lisong

November 3rd, 2006 by budidab

menghisap sebatang lisong
melihat Indonesia Raya
mendengar 130 juta rakyat
dan di langit
dua tiga cukung mengangkang
berak di atas kepala mereka

matahari terbit
fajar tiba
dan aku melihat delapan juta kanak - kanak
tanpa pendidikan

aku bertanya
tetapi pertanyaan - pertanyaanku
membentur meja kekuasaan yang macet
dan papantulis - papantulis para pendidik
yang terlepas dari persoalan kehidupan

delapan juta kanak - kanak
menghadapi satu jalan panjang
tanpa pilihan
tanpa pepohonan
tanpa dangau persinggahan
tanpa ada bayangan ujungnya
……………………..

menghisap udara
yang disemprot deodorant
aku melihat sarjana - sarjana menganggur
berpeluh di jalan raya
aku melihat wanita bunting
antri uang pensiunan

dan di langit
para teknokrat berkata :

bahwa bangsa kita adalah malas
bahwa bangsa mesti dibangun
mesti di up-grade
disesuaikan dengan teknologi yang diimpor

gunung - gunung menjulang
langit pesta warna di dalam senjakala
dan aku melihat
protes - protes yang terpendam
terhimpit di bawah tilam

aku bertanya
tetapi pertanyaanku
membentur jidat penyair - penyair salon
yang bersajak tentang anggur dan rembulan
sementara ketidak adilan terjadi disampingnya
dan delapan juta kanak - kanak tanpa pendidikan
termangu - mangu di kaki dewi kesenian

bunga - bunga bangsa tahun depan
berkunang - kunang pandang matanya
di bawah iklan berlampu neon
berjuta - juta harapan ibu dan bapak
menjadi gemalau suara yang kacau
menjadi karang di bawah muka samodra
……………………………

kita mesti berhenti membeli rumus - rumus asing
diktat - diktat hanya boleh memberi metode
tetapi kita sendiri mesti merumuskan keadaan
kita mesti keluar ke jalan raya
keluar ke desa - desa
mencatat sendiri semua gejala
dan menghayati persoalan yang nyata

inilah sajakku
pamplet masa darurat
apakah artinya kesenian
bila terpisah dari derita lingkungan
apakah artinya berpikir
bila terpisah dari masalah kehidupan

RENDRA
( itb bandung - 19 agustus 1978 )

* ) Sajak ini dipersembahkan kepada para mahasiswa Institut
Teknologi Bandung dan dibacakan di dalam salah satu adegan film “Yang
Muda Yang Bercinta” yang disutradarai oleh Sumandjaya.

Feeling Stupid

October 10th, 2006 by budidab

I feel really2 stupid today..:( presentasi hasil CGE mendapat kritik yg cukup banyak krn kecerobohanku tdk mengecek hasilnya kembali. stupid!! seharusnya aku sadar mana yg make sense & mana yg tidak..huaaaaaaa terlebih, tadi waktu sebelum & pas presentasi minum 2 gelas kopi padahal belum makan yg berat, perasaanku jadi gak enak. ngomong rasanya jadi sangat tdk comfortable, seharusnya aku minum air putih tadi..:(

memang juga sih model yg aku pake emang setengah mampus sulitnya bagiku, di kelas cuma aku yg pake model ini. dulu agak tdk diperbolehkan juga sama convenorku, tapi aku nekat aja. sekarang aku bener2 kena batunya. tapi aku mikirnya sederhana sih, kalo aku punya target yg tinggi kalo tdk terlalu tercapai maksimal khan apa yg aku raih agak tinggi juga. daripada targetnya rendah meski kecape maksimal khan tetep rendah juga…hehehehe

tapi sudahlah, terus terang emang aku banyak masukan sih. aku banyak bersyukur juga. kritik2 yg diberikan memang sangat bermanfaat. paling tidak aku juga mesti membaca2 kembali, lebih teliti & kritis. sebuah pengalaman yg sangat bermanfaat bagiku…:-) kini saatnya tidur sebentar..hehehe

Rindu

October 9th, 2006 by budidab

sebuah hari yg menantang & menyenangkan. tadi pagi tidur sekitar jam 6, usai membaca draft tesisnya Avi yg sangat menarik bagiku tentang privatisasi listrik. memang, banyak hal yg mesti dikerjakan sebelumnya hingga mesti baca sampe pagi.

diskusi juga berlangsung menarik, 2 kali aku mengikuti komentar Richard Robison tentang tesisnya Avi selalu mengesankan. tdk apa2 aku terkorting waktu utk ngasih komentar krn si Richard menyampaikan  berbagai hal secara tajam. Richard memang  sangat menguasai ekonomi politik Indonesia, aku banyak mendapat insights dr pandangan2nya.

usai seminar, Richard minta maaf padaku krn banyak menyita waktu sehingga kesempatanku terpotong. ketemu di perpus, Howard juga minta maaf krn tdk memberi kesempatan yg banyak bagiku. ah, aku suka suasana di ISS ini, semuanya serba egaliter. mau profesor kek, mau doktor  kek, rasanya enak2 aja utk diajak ngomong. rasanya, feodalisme udah sirna. aku jg suka komentar yg selalu dikutip seorang teman yg belajar disini "we are more human beings here…", krn terkesan materi & suasana yg ada.

usai seminar Tipu minta aku utk menjadi pembahas tesisnya tgl 13. ah, akhirnya genaplah satu minggu dg hal ini. aku suka sekali menjadi pembahas krn mau tdk mau dipaksa utk membaca & belajar krn harus membuat komentar. topiknya jg menarik, tentang intellectual property rights di pakistan & india.

pulang dr kampus aku menewaskan diri, tidur nyenyak banget. bangun2 baca email dr sahabat di Indonesia yg minta aku bergabung di institusinya kalo pulang. ah, tiba2 aku begitu rindu dg tanah air & segala persoalannya…hiks..hiks…hiks…

akhirnya, dlm hati bernyanyilah aku "…tanah air ku tidak kulupakan, khan terkenang selama hidupku, biarpun saya pergi jauh…" ah, kerinduan pada tanah airku begitu merebak dlm dadaku……huaaaaaaaaaaa

Tantangan

October 6th, 2006 by budidab

Beberapa hari ini & minggu depan menjadi hari2 yg benar2 menantang bagiku. Dua hari lalu aku dikasih tahu sama second readerku kalo dia mau pergi ke jerman, maka sebelum jam 11 draft riset paperku mesti udah dikumpul. Akibat ditantang keadaan ini, aku menyadari kalo manusia bisa tanpa batas. Dari sore hingga pagi jam 10 aku berkutat di depan komputer tanpa rasa ngantuk & hampir tdk kehilangan konsentrasi. Paper pun selesai. Malam tadi juga dilanjutkan hingga pagi paper utk supervisorku.

Minggu depan hari senin jadi pembahas riset paper Avi tentang privatisasi, selasa aku presentasi riset paperku tentang dampak liberalisasi perdagangan, rabu pembahas punya Catha tentang "nasionalisme" Papua, dan kamis pembahas punya Calvin tentang moneter di zambia. Sebenarnya aku pengen juga membahas punya Herni tentang kebangkrutan hari kamis, sayang udah kalah duluan. Sory ya Her..:)

Hari Jumat ada jeda sbentar tapi pasti akan diisi dg persiapan hari sabtu. Hari sabtu memoderatori pembahasan tentang membangun kehendak & mimpi bersama tentang Indonesia masa depan di kbri, lalu juga memantau prosesnya. Smoga acaranya akan berhasil dg baik & aku bisa menyumbangkan tenaga & pikiranku secara maksimal. Aku merasa agak bersalah, jadi SC tapi pada akhir2 menjelang acara tdk bisa berbuat banyak krn sibuk dg tesisku & membahas punya para sahabat yg beragam topiknya berikut kerumitannya.

Minggu ini, dg sedikit ketegangan2, aku memaknai apa arti bila melakukan sesuatu, lakukanlah dg yg terbaik. Ah, smoga aku tdk ambruk, bisa berperan maksimal & berarti. Tantangan, selalu menggairahkan bagiku..:)

Depresi Dini

September 16th, 2006 by budidab

Pa, Ma, aku tidak bisa memenuhi keinginan Papa dan Mama. Lebih baik aku mati atau bunuh diri.
Bayangkan seperti apa kagetnya orang tua, ketika anaknya yang masih berumur delapan tahun menulis surat berisikan pesan seperti di atas. Dan surat itu benar-benar diterima oleh orang tua Indra, bukan nama sebenarnya, seorang bocah kelas III SD di Surabaya.

Indra merupakan satu dari sekian banyak anak-anak sekarang (usia 6-12 tahun) yang memiliki kesibukan menyamai pengusaha kelas berat. Sejak masuk bangku SD, sang ayah telah menaruh harapan begitu tinggi, khususnya di bidang matematika.

Tidak cukup dengan full day school, sang ayah menjejali hari-hari Indra dengan tiga les tambahan. Ada les kumon, sempoa, juga menggambar.

Bangun pagi, pukul 06.00 Indra sudah berangkat ke sekolah. Tujuh jam di sekolah, setelah itu dilanjutkan dengan les dan les. Pulang ke rumah, waktunya habis untuk menyelesaikan pekerjaan rumah (PR). Buru-buru mau bermain, nonton televisi saja tidak sempat.

Belum lagi pressure yang berat yang dilakukan sang ayah. Tiap hari, sang ayah mendikte Indra supaya harus begini dan begitu. Selain itu, sang ayah kerap mengecek semua nilai matematikanya. Sang ayah memang punya harapan tinggi, dia ingin Indra kelak bisa menjadi insinyur seperti dirinya.

Ironisnya, bukan nilai baik dan prestasi yang didapat sang anak. Justru nilainya terus merosot. Bukannya membantu, sang ayah langsung memarahi Indra. Mendapat tekanan seperti itu, Indra putus asa. Dia memutuskan hendak bunuh diri, bahkan sudah meninggalkan sepucuk surat untuk kedua orang tuanya.

Untung, tindakan tersebut tidak sempat terjadi. Pembantu rumah tangga keluarga tersebut menemukan surat yang ditulis Indra, lantas segera memberikan kepada orang tuanya.

"Syukurlah, setelah kejadian itu, kedua orang tua Indra sadar dan mencari pertolongan dengan datang ke sini," kata dr Endang Warsiki Ghozali SpKJ, psikiater anak yang menangani Indra.

Ketika kali pertama konsultasi, sang ayah masih sempat bertanya mengapa Indra tak bisa berprestasi seperti anak lain. Endang hanya bisa geleng-geleng kepala. "Nampaknya, ayah Indra lupa bahwa tiap anak memiliki kemampuan dan bakat yang berbeda. Ini yang kerap kali tidak dipahami orang tua," tutur dr Endang.

Psikiater RSU dr Soetomo itu mengatakan, ayah Indra berharap sang anak terus punya nilai sempurna.

Padahal, setelah diamati, secara genetika Indra memiliki sifat sang ibu yang kemampuannya cenderung ke arah pelajaran sosial.

Fenomena depresi seperti yang dialami anak-anak seperti Indra ini belakangan terus meningkat. Menurut Prof Lestari Basoeki SpKJ, staf Ilmu Kedokteran Jiwa RSU dr Soetomo Surabaya, saat ini banyak sekali anak-anak yang direcoki orang tuanya untuk mengikuti sejumlah les yang sangat memberatkan. Padahal, itu tidak cocok dengan anak usia 6-12 tahun.

"Pada masa itu, anak-anak sangat ingin menghabiskan waktunya untuk bermain dengan teman sebaya," terang psikiater anak dan remaja RSU dr Soetomo tersebut.

Prof Lestari menjelaskan, tanda-tanda gangguan jiwa bisa dilihat dari kesehariannya. Pertama, ketika sang buah hati tiba-tiba menjadi pemurung, menarik diri dari pergaulan, tidak mau melakukan aktivitas rutinnya. Atau sebaliknya, si kecil menjadi agresif, sering teriak, menjadi rewel dan menjengkelkan, bahkan nakalnya kelewatan.

Bila gejala-gejala tersebut didapati, bisa jadi si kecil hanya mengalami stres.

Tapi, bisa juga dia menjadi depresi berat atau psikosomatik.

"Orang tua harus mengenali sejak dini apakah anaknya tertekan atau tidak dengan semua aktivitas yang mereka jalani," tutur Prof Lestari. Sebab, sedikit saja orang tua "kelewatan" mengenali gejala psikis tersebut, anak bisa depresi.

Prof Lestari mengakui, bukan hanya kesibukan yang bisa membuat anak menjadi depresi. "Banyak hal lain. Hanya saja, belakangan ini memang menyeruak kasus depresi anak karena aktivitas mereka yang terlampau padat," tegasnya.

Yang lebih mengkhawatirkan, tidak banyak orang tua sadar anaknya bermasalah. Atau, pihak orang tua malu membawa anak mereka ke psikolog atau psikiater. Padahal, bila stres atau depresi itu dibiarkan, nantinya bisa mempengaruhi proses tumbuh kembang anak.

Manifestasinya ada dua. Pertama, si anak bisa berkembang menjadi pribadi yang tertutup, sulit bersosialisasi atau tidak cakap berkomunikasi. "Kalau begini, percuma memiliki anak pandai bila tidak mampu berinteraksi," ujar Prof Lestari.

Kedua, si anak bisa tumbuh menjadi pribadi yang agresif dan nakal. "Sikapnya itu sebagai konsekuensi dari rasa stres atau depresi yang dia alami," tutur alumnus FK Unair tersebut.

Yang membahayakan, saat dewasa bila tertimpa masalah yang berat, si anak menjadi rapuh. "Jangan heran bila menemukan anak kesayangan Anda menderita skizofrenia pada usia muda. Bisa jadi itu akibat perasaan yang tertahan sejak dia kecil. Perasaan yang terepresi itu akan mengakibatkan depresi, yang bisa berujung pada skizofrenia bila tidak mendapat penanganan segera," jelasnya.

Bagaimana caranya supaya ini tidak terjadi? Menurut dr Endang, ada hal penting yang harus disadari orang tua, bahwa setiap anak memiliki "keunikan" masing-masing. "Dengan begitu, mereka bisa tahu, anaknya cocok ikut les apa ya?" ujarnya. "Dengan begitu, orang tua pun memiliki target realistis. Ingat, anak itu titipan, bukan untuk memenuhi ambisi orang tua," tegasnya. (titik andriyani)

http://www.jawapos.co.id/index.php?act=detail_c&id=246995

Cinta saja tidak cukup

September 11th, 2006 by budidab

bagi yg akan ataupun sedang menjalin hubungan "khusus"  (entah  lama  atau baru, bahkan suami-istri), film "The Break-Up" ini bagus banget utk  ditonton. benar ulasan detikHot, cinta saja memang tdk cukup. film ini memberi  banyak pelajaran dlm menghargai pasangan, mencoba saling memahami karakter & bersikap lebih (katakanlah) dewasa dlm menyikapi perbedaan pandangan agar tdk terjadi hal2 yg tdk diinginkan.

soal yg "sepele", membeli 3 jeruk  (padahal yg diminta 12) akhirnya membuka selimut ketidakpuasan yg tersembunyi (tdk merasa dihargai) & memunculkan "perang" yg tak berkesudahan meskipun pasangan itu benar2 saling cinta. bahasa & sudut pandang yg kadang berbeda antara cowok & cewek lalu diperlihatkan dg agak konyol & dramatis . cinta saja & merasa diri banyak berkorban tapi merasa tdk dihargai, pasti sangatlah meletihkan. padahal, pasangan tdk bermaksud seperti itu.

kepekaan & perlunya mencoba memahami sudut pandang pasangan, inilah (menurutku) pesan yg ingin disampaikan dlm film ini. pokoknya yg jelas nonton film ini akan terhibur & dapet insights banyak deh, dijamin….hehehehe

http://www.detikhot.com/index.php/tainment.read/tahun/2006/bulan/08/tgl/23/time/132754/idnews/660265/idkanal/218
http://www.thebreakupmovie.net/

The Break-Up : Tinggal Serumah, Cinta Saja Tak Cukup

Cinta saja tak cukup untuk membuat dua manusia dapat bertahan hidup satu atap. Beda kebiasaan dan beda selera, bisa jadi perang dunia.

Brooke (Jennifer Aniston) dan Gary (Vince Vaughn). Di awal film dikisahkan awal pertemuan mereka secara singkat.

Puluhan rekaman berbagai momen istimewa mengajak penonton ikut merasakan bagaimana berbunga-bunganya mereka berdua. Mereka saling jatuh cinta. Saling tergila-gila!

Mulusnya perjalanan cinta Brooke dan Gary yang telah tinggal bersama terganggu kerikil-kerikil perbedaan. Brooke yang bekerja di sebuah galeri seni sangat mengagung-agungkan estetika. Sedang Gary, ia bahkan tak peduli dengan kerapihan.

Suatu malam, pertengkaran hebat terjadi. Pemicunya sepele. Gara-gara Gary enggan membantu membersihkan piring kotor.

Perang mulut terjadi. Tak hanya soal piring kotor yang dibahas, tapi hal-hal lain yang selama ini hanya ditumpuk dalam hati. Mulai dari kekesalan Brooke karena Gary hanya membawakan 3 dari 12 buah lemon yang dipesan, tak mau menemani menonton pertunjukan balet, sampai Gary yang dongkol lantaran kerap diomeli Brooke soal urusan baju kotor.

Nada suara kian meninggi. Cinta tak mampu membuat Brooke atau Gary menahan diri. Mereka tak ada yang mau mengalah. Pertengkaran akhirnya berhenti saat Brooke mengatakan dirinya sudah letih. Bukan secara fisik, tapi perasaan. Kata putus pun terucap. Kondominium yang ditempati bersama pun diputuskan untuk dijual.

Selama kondominium masih dalam status "ditawarkan", hari-hari Brooke dan Gary diisi agenda saling menyakiti hati satu sama lain. Brooke ingin membuat Gary cemburu dengan mengencani beberapa pria. Gary juga tak mau kalah. Ia menggelar pesta yang dihadiri perempuan-perempuan seksi.

Sampai tiba saatnya, kondominium resmi terjual. Dalam waktu dua minggu, mereka harus meninggalkan tempat tersebut. Tempat yang penuh memori, penuh kisah manis.

Brooke dan Gary akhirnya sama-sama menyadari kalau mereka masih mencintai satu sama lain. Di suatu malam, Gary mempersiapkan makan malam kejutan. Ia menghias meja dengan sangat cantik.

Brooke tersentuh. Terlebih saat Gary mengajak Brooke untuk kembali merajut pita-pita cinta yang sempat terputus. Akankah Brooke menerima ajakan Gary? (ine/)

pusing

September 10th, 2006 by budidab

pagi ini jam 5 lebih. blom tidur. macet..cet… pikiran. pusing ngartiin cacing2 (persamaan2)…huaaaa!!!! dasar nasib, susah banget sih tesisnya.  padahal submit tinggal sbentar lagi. dibilangin convenor ngeyel aja sih, nekat ambil yg ini. macet kaya’ gini, yah mau gak mau musti mecahin sendiri. biarin deh, emang hidup mesti ada tantangan boooo…

…..tp udah beberapa hari ini jadi kalong & kamar dibuat brantakan, tetep aja macet. dodol bener nih…:( …..huaaaaa!!!

yah, tapi "hari ini" lumayanlah. ada "prestasi". lama pengen buat sayur lodeh akhirnya kesampean juga…hehehe meski tadi baru seru2nya masak, eh… baru sadar musti beli santan. akhirnya di-"pause" dulu deh masaknya. ….tp hasilnya gak jelek2 amat lah…hehehehe i love lodeh very much..;-)

Me and You and Everyone We Know

August 6th, 2006 by budidab

semalam aku liat film "Me and You and Everyone We Know", sebuah film yg sangat puitik yg digarap begitu apik. sebuah film tentang fragilitas manusia, tentang eksistensi, tentang kehampaan, tentang kesepian, tentang pencarian, tentang obsesi manusia biasa, tentang eksploritas seksual remaja yg sedang mencari, tentang rutinitas, tentang gejolak, tentang kegetiran, dll. pada intinya, sebuah kejujuran tentang perjalanan manusia-manusia biasa dlm perjalanan hidup pada dunia kontemporer ini, dan mencoba apa adanya. aku tdk heran, setelah aku liat di internet, film ini banyak mendapat penghargaan dr festival2 film internasional yg sangat prestisius & bermutu, macam cannes atau sundance. 

sesuai judulnya "Aku dan Kamu dan Semua Orang yang Kita tahu", film ini mencoba menceritakan tentang kita semua. nonton film ini sebenarnya seperti  kita melihat diri kita sendiri. usai nonton, bacaan2ku tentang eksistensialisme langsung berhamburan di
benakku: Sartre, Kierkegaard, Jaspers, tapi dlm hal ini memang
Nietczhe mesti dikesampingkan (terutama tentang "manusia super").
film ini mencoba fokus, mencoba memperlihatkan visi manusia pada masanya tentang (katakanlah) "hidup" secara otentik. visi seorang anak kecil, remaja, orang dewasa & orang tua. meski banyak subyek yg diceritakan film ini sangat fokus dg pesan yg ingin disampaikan. ini jauh berbeda dg "Pasir Berbisik", sebuah film yg sebenarnya bermutu tapi krn terlalu banyak pesan yg ingin disampaikan jadinya tidak fokus & seperti "kehilangan arah".   

profesionalisme Pathe (nama gedung bioskop di Belanda), juga terlihat. awal film dibuka, tdk ada iklan ataupun ekstra film (hal ini tdk biasanya).  kita langsung disuguhkan dg menu utama, film tentang kehidupan yg terasa datar dg musik yg ritmenya juga tdk bergejolak. iklan & ekstra film dihilangkan agar tdk  merusak  suasana  yg  pengen diceritakan.

film "Me and You and Everyone We Know" sbenarnya film kedua yg aku liat setelah nonton "Just My Luck" (tentang "american dream" yg menurutku tdk bermutu, hanya utk hiburan "konyol2an" saja namun aku tdk mau terpengaruh). dan memang, nonton film ini sbenarnya tujuanku "membunuh waktu & perasaan tiba2 sepi" di negeri orang ini, bersama Kang Joko (yg jauh2 dr Amstedam) memanfaatkan kartu nonton "gratis". untung aku dapet film yg bagus..:-) makanya, liat "Me and You and Everyone We Know"…hehehe (promosi) habis nonton mungkin langsung tdk ngerti tentang apa film itu, tapi kalo mau merenungkan sedikiiiit aja setelah nonton, maknanya dalam bo…..:-)

Temaram Senjakala

August 3rd, 2006 by budidab

kekejaman perang di Libanon membuatku bergidik, puisi yg aku buat waktu  perang Irak menjadi relevan kembali. aku membenci perang. perang adalah cara primitif manusia dalam menyelesaikan persoalan, yaitu dengan kekerasan. membunuh atau dibunuh..:-(

Temaram Senjakala

 

temaram senjakala
muramnya peradaban
dikoyak kebencian
dirobek perang

api, darah dan air mata

jerit tangis percuma
kedengkian berkobar
amis darah tlah dilaburkan

kebiadaban atas berhala identitas
kekejaman akibat kepentingan

manusiakah itu?

setan menggelinjang kenikmatan
iblis mereguk orgasme
laknat! laknat!! laknat!!!
oh dimanakah Tuhan?

aduh, apa perlunya kau tanyakan?

21 april’03

Air Mata Darah

June 26th, 2006 by budidab

IZIKANLAH kami, rakyat miskin, untuk memeras air mata darah. Itulah
satu-satunya air mata yang kami punyai, tinggal. Tidak. Tidak. Kami
rakyat miskin tidak menangis lagi. Kami hanya meminta izin untuk tetap
sengsara disebabkan oleh ketidakbecusan kami dalam berburu nafkah.
Jangan cambuk lagi kami dengan cambuk kasih sayang. Cambuk kami dengan
penderitaan sepuluh tahun lagi, dua puluh tahun lagi, lima puluh tahun
lagi, supaya kami, rakyat miskin, terus belajar bagaimana bertahan di
segala cuaca.

Ketika menyadari bahwa setiap hari kami sangat kesukaran dalam mengatur uang
belanja kami yang cupet, kami sadar, semakin
mempersulit kerja siapa pun yang mencoba menolong kami. Ya, kami menjadi beban.
Beban yang berat sekali bagi siapa saja yang memikul kami.

Bagaimana kemungkinannya jika kami mengajukan eutanasia saja. Sekitar
separo dari penduduk negeri ini, rakyat miskin, bisa dieliminasi supaya beban
yang menyebabkan semuanya menderita bisa berkurang dalam sekejap.
Tak ada gunanya memelihara rakyat miskin. Di samping sangat menghambat
modernisasi, rakyat miskin juga sangat boros dalam melahap kekayaan bangsa.

Kenaikan harga BBM memang fatal. Kami, rakyat miskin,
ditempeleng telak. Kami terkapar. Ada saja anak-anak kami yang mencoba
bunuh diri karena tak mampu membayar uang sekolah. Tak tanggung-tanggung, 27.000 murid
sekolah di Bogor terancam putus sekolah. Dewasa ini,
kami yang jumlahnya ribuan macet sekolahnya, lalu menggelandang mencari
pekerjaan apa saja.
Kami juga menjadi pemulung, pengemis, penjambret,
pencuri, perampok, pemerkosa, pembunuh, agen dari segala kerusuhan dan
huru-hara. Pernah dengar sopir taksi dibunuh dan duitnya dijarah? Itulah
kerja kami. Kami membunuh kami, karena hanya dengan jalan itu, baru
kami bisa hidup.

Mitsubishi hengkang dari kebun kita dan memilih
berinvestasi di Thailand, yang menyebabkan kami mampus. Berapa ribu
karyawan yang kena PHK? Tanpa dibunuh pun, kami sudah tewas. Nah, beban
dari yang berwajib berkurang dalam mengurus kami, setelah kami undur diri dari dunia ramai.
Alangkah mudahnya mengurangi derita, barangkali
sebentar lagi menyusul Honda, Hyundai, KIA, Toyota, Daihatsu, Suzuki, apa
susahnya. Perusahaan besar datang dan pergi sesuka hati, seperti datang
perginya awan yang membentang di langit yang dapat diharapkan menjadi hujan.

Kami, rakyat miskin, memang sering bikin ulah yang menyebabkan para
investor tidak tenang hidupnya. Dan, yang berwajib tidak memperbaiki
semuanya itu karena memang tidak mampu, rasa aman, rasa saling
menghargai, rasa tidak digerogoti, sudah sangat berat untuk
ditanggulangi. Memang menyelenggarakan konferensi,
kongres, muktamar, dan rapat-rapat jauh lebih memikat karena ringan,
namun duitnya banyak, daripada menjaga para investor itu dari segala
rongrongan.

Musim semi ekonomi Indonesia telah tiba, yang menikmati tentulah hanya
para petinggi dan elite politik. Tolong jangan ajak kami ke pesta, meski
terdengar kata-kata mutiara: Pesta yang buruk adalah pesta tanpa
mengajak kaum miskin, sebab itu cuma basa-basi yang
sudah disobek dari lembar buku-buku pelajaran bagi orang-orang yang
beriman. Orang-orang yang beriman sudah memiliki buku-buku baru yang lebih cocok.

Apa arti musim semi ekonomi bagi rakyat miskin?
Semuanya itu cuma pembicaraan yang tidak mampu kami pahami. Yang kami
butuhkan hanyalah yang serbakonkret. Jika kami sakit, beri kami obat;
jika lapar, kasih kami makanan; kalau sedih, hibur kami. Tapi, itu semua
sudah tamat. Yang kami perlukan cuma eutanasia. Nah, kerjakan sekarang,
mumpung penderitaan kami belum bertambah-tambah. Sekitar
seratus delapan puluh juta jiwa bakal lenyap sekelebatan. Itulah pengertian
yang benar yang selama ini kami yakini.

Kami tahu, beban berat tidak bisa dipikul terus-menerus tanpa dipunggah
dari pundak. Ayo, beristirahat. Kami berteduh di bawah pohon besar untuk
melepaskan peluh yang mengucur. Kami susun kembali
karung-karung besar beban yang menggunung di sisi kami lelap siang yang
panas itu. Kami bermimpi sejenak. Mimpi tentang anak-anak yang kami
lahirkan yang menempuh hidup di kemudian hari. Anak-anak yang cerdas
dan berbakti yang tetap saja digarong oleh masa depannya.

Andai kami bisa membentengi keturunan kami dari segala
kerusuhan dan saling menerkam lewat mimpi kami ini. Mimpi adalah
godaan yang kami bangun sendiri dengan perih. Waktu jaga sudah kembali,
atau kami terus bermimpi, dan tak kembali ke bumi. Alhamdulillah.
Hidup hanya sepenggal catatan yang kusam yang tidak dibaca lagi. Ke sana
segala kesedihan berlabuh sampai kapal rusak tak mampu melaut lagi. Air
mata dari segala air mata. Kami hanya rakyat miskin yang setiap saat
dilupakan. Yang boleh dianggap tak pernah ada. Robeklah catatan dan
kami lenyap.

Segala pasang surut APBN, harga minyak, dan para
investor tak juga tertarik untuk mengadu untung di sini karena bahaya
mengancam di setiap sudut kota, itu kesalahan kami, rakyat miskin, yang
tidak memahami seluk-beluk citra dari segala penampilan. Kami sudah
pasrah dengan segala tangan yang terikat ke belakang. Gusur kami
dari segala usir dan hardik. Penggal (!) dan kepala kami menggelinding.

Kami, rakyat miskin, tinggal punya air mata darah,
seperti yang sudah diumumkan oleh tsunami, Buyat, demam berdarah, flu
burung, polio, raskin, maupun tanah longsor, dan banjir. Semua
keterbukaan sudah tertutup bagi kami. Sampai di sini riwayat kami.
Jangan diperpanjang lagi cerita yang hanya meninabobokan. Kami letih.

Konyol kami tak mampu melepaskan beban sendiri tanpa
bantuan siapa pun. Segalanya pernah ditulis. Segalanya pernah dikenang.
Untung bagi kami yang kami hadapi hanyalah sisa-sisa kekuatan dari masa
lampau yang sungguh tak sakti yang mencoba memberi nyawa kami.
Yang papa, yang sengsara. Keadilan, kemakmuran, dan kebenaran, meski
bagaimanapun pernah kami cecap, sedikit. Selamat tinggal.***

* Danarto, budayawan